Kamis, 03 Oktober 2019

CERPEN YERO


SENJA DI PUNCAK FATULE'U
Buat Lidya .......07/10-17

Oleh : YEROBIAM OEMATAN,S.Pd
Saat itu aku tak pernah menyangka jikalau kisah  kita berawal ketika senja. Kutarikan tinta pena ini saat senja dipuncak Fatule’u meredup di antara pepohonan pinggiran kota, angin senja yang berhembus pun angan yang karam di musim barat. Jiwaku seakan menujumu dalam  beribu untaian syair dalam risalah yang sukar mengenal jiwamu. Aku terperangkap dalam kegugupan namun paksakan diri berani sekalipun teguranku dibayar kesal. Aku sangat pahami kiranya setia itu diujicoba bagaikan emas di dalam tanur yang berkobar.
Sudahkah kau paham setelah aku bertanya padamu di suatu senja tentang sebuah kisah kasih? aku sangat yakin kalau itu tidak akan lama bersarang di ingatanmu lantas  bayangan jiwamu selalu saja membayangkan akan petuah ibumu. Aku duluhnya masih belum tahu, namun akupun sadar akan hal itu. Saat itu juga suara kecil dari hatiku menggerakan agar kupanggil  kau kembali untuk kita berdua mengenang, sekalipun tarikan pena di kertas usang ini menjadi wakil hadirku buatmu.dan yang aku harapkan bahwa kau tetap yakini dan percaya, bahwa kerinduan ini semakin timbul dan ada di antara kita  karena jarak. Karena jarak dan waktu  pula besarnya rasa cinta kau dan aku sebanding dengan angin senja yang terus berhembus menghantar fajar untuk terbenam, walau tak berlihat bentuk dan banyaknya, namun tak henti-hentinya ia berhembus.
Sayang nampaknya aku sedang melamun, membayangkan kau sedang memikirkan senja itu, sebab dalan senja itu, cinta kita telah menyatu dan bersemi. Senja di Fatule’u  kini dan nanti dari cintaku dan kau.
Harapan aku saat ini semoga perasaan dan hati kamu lebih tegar dari senja hari itu. Sesungguhnya hari yang sangat istimewa buat aku dan kau untuk saling berbagi kasih, kisah, dan sayang. Saling berbagi perasaan, dalam  suka dan duka sekalipun. Jangan ciptakan risau dihatimu, walau tangan dan jariku tak pernah membelai wewangian yang telah lama kau janjikan. Kini, aku dan kau hanya saling merindukan dalam jarak dan waktu.Jaraklah yang menjadi ukuran segala-galanya buat masa depan kita. Sayang, duniaku, duniamu, dunia kita kini semakin kejam memburu rasa. Kejam hingga cinta diganti cacian. Kasih sayang hanya digadai dengan harta buatan dan palsu, agar kau tidak perna rasakan sesal yang panjang , hanyalah kemesraan yang tulus dibenamkan.
Semoga kisah kita tidak ibarat senja itu. Karena cinta yang kita bina adalah kunci yang harus senantiasa kita lunasi lewat kebijakan. Semoga kita selalu memaknai senja itu yang berkisah dan penuh harapan. Sekalipun saat ini kita di batasi oleh jarak yang cukup jauh. Kesana, kemari ikut petunjuk hatimu namun ingatlah bahwa senja bukanlah prima cinta kita.
Lidya, kita memang tidak seberapa di mata orang, namun itu bukanlah yang utama dan pertama yang seharusnya kita gapai. Aku tak ingin kita jadi materialis dizaman ini. Sebab cinta karena materi sama halnya dengan kapal tanpa kompas. Berlayar kemana ia mau, tak pernah tau arah hendak ia kemana. Bagi aku materi bukanlah mutiara yang dicari jiwa kita. Karena pada dasarnya jiwa hanya mencari ketulusan untuk memberi dibalik materi itu. Karena keprihatinan jiwa inilah aku bisa memberanikan seluruh rasaku lewat goresan tinta pada lembaran kusut ini, penuh harapan bahwa semoga hatimu masih terkesan akan senja walau jarak dan waktu masih terbentang kakuh di depan sebagai pembatas kita dititian yang jauh.
Di akhir goresan tinta pada sehelai kusam ini, dalam  balutan jarak dan waktu dan rasa kangen yang dibawa hembus melewati pepohonan pinggiran kota, aku titipkan seuntaian kata hatiku untuk mu.
KATA HATI
Walau ujung  jariku tak menyentuh tubuhmu
Walau wangi tak pernah  tercium bibirku
Bayu pagi ini terasa
Hingga terataipun ikut bernyanyi kalau kumau
Dari rentang kehijauan padang sampai pada gurun yang tak bermuara
Kupeluk cintamu
Aku ingin memeluk cintamu
Segalahnya terasa...
Bara membakar menjilat sekujur tubuhku
Aku hangat dari kepakanmu. .



1 komentar: