
Buat Lidya .......07/10-17
Oleh
: YEROBIAM OEMATAN,S.Pd
Saat itu aku tak pernah menyangka jikalau kisah kita berawal ketika senja. Kutarikan tinta
pena ini saat senja dipuncak Fatule’u meredup di antara pepohonan pinggiran
kota, angin senja yang berhembus pun angan yang karam di musim barat. Jiwaku
seakan menujumu dalam beribu untaian
syair dalam risalah yang sukar mengenal jiwamu. Aku terperangkap dalam
kegugupan namun paksakan diri berani sekalipun teguranku dibayar kesal. Aku
sangat pahami kiranya setia itu diujicoba bagaikan emas di dalam tanur yang
berkobar.
Sudahkah kau paham setelah aku bertanya padamu di
suatu senja tentang sebuah kisah kasih? aku sangat yakin kalau itu tidak akan
lama bersarang di ingatanmu lantas
bayangan jiwamu selalu saja membayangkan akan petuah ibumu. Aku duluhnya
masih belum tahu, namun akupun sadar akan hal itu. Saat itu juga suara kecil dari hatiku menggerakan agar
kupanggil kau kembali untuk kita berdua
mengenang, sekalipun tarikan pena di kertas usang ini menjadi wakil hadirku
buatmu.dan yang aku harapkan bahwa kau tetap yakini dan percaya, bahwa
kerinduan ini semakin timbul dan ada di antara kita karena jarak. Karena jarak dan waktu pula besarnya rasa cinta kau dan aku
sebanding dengan angin senja yang terus berhembus menghantar fajar untuk
terbenam, walau tak berlihat bentuk dan banyaknya,
namun tak henti-hentinya ia berhembus.
Sayang nampaknya aku sedang melamun, membayangkan kau
sedang memikirkan senja itu, sebab dalan senja itu, cinta kita telah menyatu
dan bersemi. Senja di Fatule’u kini dan
nanti dari cintaku dan kau.
Harapan aku saat ini semoga perasaan dan hati kamu
lebih tegar dari senja hari itu. Sesungguhnya hari yang sangat istimewa buat
aku dan kau untuk saling berbagi kasih, kisah, dan sayang. Saling berbagi
perasaan, dalam
suka dan duka sekalipun. Jangan ciptakan risau
dihatimu, walau tangan dan jariku tak pernah membelai wewangian yang telah lama
kau janjikan. Kini, aku dan kau hanya saling merindukan dalam jarak dan waktu.Jaraklah
yang menjadi ukuran segala-galanya buat masa depan kita. Sayang, duniaku,
duniamu, dunia kita kini semakin kejam memburu rasa. Kejam hingga cinta diganti
cacian. Kasih sayang hanya digadai dengan harta buatan
dan palsu, agar kau tidak perna rasakan sesal yang panjang , hanyalah kemesraan
yang tulus dibenamkan.
Semoga kisah kita tidak ibarat senja itu. Karena cinta
yang kita bina adalah kunci yang harus
senantiasa kita lunasi lewat kebijakan. Semoga kita selalu memaknai senja itu
yang berkisah dan penuh harapan. Sekalipun saat ini kita di batasi oleh jarak
yang cukup jauh. Kesana, kemari ikut petunjuk hatimu namun ingatlah bahwa senja
bukanlah prima cinta kita.
Lidya, kita memang tidak
seberapa di mata orang, namun itu bukanlah yang utama dan pertama yang
seharusnya kita gapai. Aku tak ingin kita jadi materialis dizaman ini. Sebab
cinta karena materi sama halnya dengan kapal tanpa kompas. Berlayar kemana ia
mau, tak pernah tau arah hendak ia kemana. Bagi aku materi bukanlah mutiara
yang dicari jiwa kita. Karena pada dasarnya jiwa hanya mencari ketulusan untuk
memberi dibalik materi itu. Karena keprihatinan jiwa inilah aku bisa
memberanikan seluruh rasaku lewat goresan tinta pada lembaran kusut ini, penuh
harapan bahwa semoga hatimu masih terkesan akan senja walau jarak dan waktu
masih terbentang kakuh di depan sebagai pembatas kita dititian yang jauh.
Di akhir goresan tinta pada sehelai kusam ini,
dalam balutan jarak dan waktu dan rasa
kangen yang dibawa hembus melewati pepohonan pinggiran kota, aku titipkan
seuntaian kata hatiku untuk mu.
KATA HATI
Walau
ujung jariku tak menyentuh tubuhmu
Walau
wangi tak pernah tercium bibirku
Bayu pagi
ini terasa
Hingga
terataipun ikut bernyanyi kalau kumau
Dari
rentang kehijauan padang sampai pada gurun yang tak bermuara
Kupeluk
cintamu
Aku ingin
memeluk cintamu
Segalahnya
terasa...
Bara
membakar menjilat sekujur tubuhku
Aku
hangat dari kepakanmu. .
MANTAP
BalasHapus