Kamis, 03 Oktober 2019

CERPEN YERO


SENJA DI PUNCAK FATULE'U
Buat Lidya .......07/10-17

Oleh : YEROBIAM OEMATAN,S.Pd
Saat itu aku tak pernah menyangka jikalau kisah  kita berawal ketika senja. Kutarikan tinta pena ini saat senja dipuncak Fatule’u meredup di antara pepohonan pinggiran kota, angin senja yang berhembus pun angan yang karam di musim barat. Jiwaku seakan menujumu dalam  beribu untaian syair dalam risalah yang sukar mengenal jiwamu. Aku terperangkap dalam kegugupan namun paksakan diri berani sekalipun teguranku dibayar kesal. Aku sangat pahami kiranya setia itu diujicoba bagaikan emas di dalam tanur yang berkobar.
Sudahkah kau paham setelah aku bertanya padamu di suatu senja tentang sebuah kisah kasih? aku sangat yakin kalau itu tidak akan lama bersarang di ingatanmu lantas  bayangan jiwamu selalu saja membayangkan akan petuah ibumu. Aku duluhnya masih belum tahu, namun akupun sadar akan hal itu. Saat itu juga suara kecil dari hatiku menggerakan agar kupanggil  kau kembali untuk kita berdua mengenang, sekalipun tarikan pena di kertas usang ini menjadi wakil hadirku buatmu.dan yang aku harapkan bahwa kau tetap yakini dan percaya, bahwa kerinduan ini semakin timbul dan ada di antara kita  karena jarak. Karena jarak dan waktu  pula besarnya rasa cinta kau dan aku sebanding dengan angin senja yang terus berhembus menghantar fajar untuk terbenam, walau tak berlihat bentuk dan banyaknya, namun tak henti-hentinya ia berhembus.
Sayang nampaknya aku sedang melamun, membayangkan kau sedang memikirkan senja itu, sebab dalan senja itu, cinta kita telah menyatu dan bersemi. Senja di Fatule’u  kini dan nanti dari cintaku dan kau.
Harapan aku saat ini semoga perasaan dan hati kamu lebih tegar dari senja hari itu. Sesungguhnya hari yang sangat istimewa buat aku dan kau untuk saling berbagi kasih, kisah, dan sayang. Saling berbagi perasaan, dalam  suka dan duka sekalipun. Jangan ciptakan risau dihatimu, walau tangan dan jariku tak pernah membelai wewangian yang telah lama kau janjikan. Kini, aku dan kau hanya saling merindukan dalam jarak dan waktu.Jaraklah yang menjadi ukuran segala-galanya buat masa depan kita. Sayang, duniaku, duniamu, dunia kita kini semakin kejam memburu rasa. Kejam hingga cinta diganti cacian. Kasih sayang hanya digadai dengan harta buatan dan palsu, agar kau tidak perna rasakan sesal yang panjang , hanyalah kemesraan yang tulus dibenamkan.
Semoga kisah kita tidak ibarat senja itu. Karena cinta yang kita bina adalah kunci yang harus senantiasa kita lunasi lewat kebijakan. Semoga kita selalu memaknai senja itu yang berkisah dan penuh harapan. Sekalipun saat ini kita di batasi oleh jarak yang cukup jauh. Kesana, kemari ikut petunjuk hatimu namun ingatlah bahwa senja bukanlah prima cinta kita.
Lidya, kita memang tidak seberapa di mata orang, namun itu bukanlah yang utama dan pertama yang seharusnya kita gapai. Aku tak ingin kita jadi materialis dizaman ini. Sebab cinta karena materi sama halnya dengan kapal tanpa kompas. Berlayar kemana ia mau, tak pernah tau arah hendak ia kemana. Bagi aku materi bukanlah mutiara yang dicari jiwa kita. Karena pada dasarnya jiwa hanya mencari ketulusan untuk memberi dibalik materi itu. Karena keprihatinan jiwa inilah aku bisa memberanikan seluruh rasaku lewat goresan tinta pada lembaran kusut ini, penuh harapan bahwa semoga hatimu masih terkesan akan senja walau jarak dan waktu masih terbentang kakuh di depan sebagai pembatas kita dititian yang jauh.
Di akhir goresan tinta pada sehelai kusam ini, dalam  balutan jarak dan waktu dan rasa kangen yang dibawa hembus melewati pepohonan pinggiran kota, aku titipkan seuntaian kata hatiku untuk mu.
KATA HATI
Walau ujung  jariku tak menyentuh tubuhmu
Walau wangi tak pernah  tercium bibirku
Bayu pagi ini terasa
Hingga terataipun ikut bernyanyi kalau kumau
Dari rentang kehijauan padang sampai pada gurun yang tak bermuara
Kupeluk cintamu
Aku ingin memeluk cintamu
Segalahnya terasa...
Bara membakar menjilat sekujur tubuhku
Aku hangat dari kepakanmu. .



PUISI YERO


Mata Pena
By. Yerobiam Oematan, S. Pd

Dari mata pena aku mengenal engkau
Mata pena yang tidak berkata bukan
Mata pena yang tajam menikam pikiranku
Mengoyak segala rasa, melebur dalam naluri
Dari coretan-coretan pena yang tak laku
Pena yang membanjirkan syair
Dari titik-titik tinta hitam, keruh, kabur
Aku tak mau mata pena ini kehabisan kata-kata
Biar aku mati tertikam mata pena
Biar nyawa berakhir di ujung pena
Ketika jari menari meracik rindu pada kata-kata
Pada mata pena yang tak pernah mengingkariku.


By Yerobiam Oematan,S.Pd
KATA HATI
Walau ujung  jariku tak menyentuh tubuhmu
Walau wangi tak pernah  tercium bibirku
Bayu pagi ini terasa
Hingga terataipun ikut bernyanyi kalau kumau
Dari rentang kehijauan padang sampai pada gurun yang tak bermuara
Kupeluk cintamu
Aku ingin memeluk cintamu
Segalahnya terasa...
Bara membakar menjilat sekujur tubuhku
Aku hangat dari kepakanmu. .

Rabu, 02 Oktober 2019

PUISI


By. YEROBIAM OEMATAN,S.Pd


Teman rahasia
Kau alasan ku
Setiap kali ku melihat mu 
Detak jantung ini seperti terhenti
Setiap mendengar suara merdu mu
Aku tak dapat berkata –kata
            Engkau semangat  hidup ku
            Engkau obat piluh hati ku
Engkau motivasi semangat ku
            Senyum mu menghilangkan kesedihan ku
                        Kau menembus hayalan ku
                        Darimulah tercipta syair indah ku
Darimulah keluar  melodi ku
                        Kau teman rahasia ku


Pujaan hati
Ketika mentari mulai muncul dari ufuk timur
Sinarnya menyinari bumi
Bunga ditaman bermekaran
Embun hampir tak terlihat
            Teringat ku akan senyum manis mu
            Senyuman yang meracuni pikiran ku
            Senyuman yang memberontak dihati ku
            Ya, tiada senyuman yang lebih manis daripada senyum mu
Sakit karena disakiti masa lalu
Hati yang tergores luka kemarin
 Musnah karena mu
Kau pujaan hati ini
            Tak henti memikirkan mu
            Tak henti mengangumi  mu
            Semangat yang terpancar daripada mu
            Membuat ku  berjuang menjalani hari –hari ku
Nama mu terukir indah dalam diari ku
Wajah mu terkenang dalam kalbu ku
Kau yang ku dambakan  
Sang  pujaan hati

  
Waktu
Waktu.......
Waktu adalah uang
Waktu adalah emas
Tapi sadarkah kita akan hal itu?
                        Waktu.....
                        Berjalan maju bukan mundur
                        Pahamkah kita akan hal itu?
Banyak waktu yang terbuang
Banyak waktu yang terlewatkan
Banyak waktu yang menanti
            Pakailah waktu sebaik mungkin
            Gunakanlah waktu sebisa mungkin
            Jangan berdiam meratap hidup
            Bergerak maju pantang menyerah
                                   

Sebentar dan terpisah
Waktu terasa begitu cepat
Terasa kemarin mengenalmu
Sebentar akrab denganmu
Dan akan terpisah untuk sebentar
            Walau begitu...
            Apa yang dapat kulakukan
            Rasanya berat namun,  apa mau dikata
            Itulah misteri hidup
Sebentar bahagia, lalu sedih
Sebentar bertemu, lalu berpisah
Bagaikan teka –teki yang susah ditebak
            Pergilah kasih...
            Kau kutunggu disini
            Tetap dengan rasa yang sama
            Sampai kau kembali
Kan ku jaga rasa ini
Sampai nanti kau kan kembali
Demi cinta, ku kan bertahan
            Walau hanya dengan syair ini
            Untuk mengungkapkan rasa
            Satu kata untukmu
            Percayalah aku kan bersama mu
           


Kenangan terindah
Matahari hampir tertelan bumi
Meninggalkan rindu yang menjadi –jadi
Cahaya rembulan berkilau keperakan
Menyinari hati yang kesepian
Hari ini hampir berakhir
Semua tentang kita
Semua kebersamaan kita
Terasa tenggelam bersama matahari
Semua yang terukir
Hancur begitu saja
Semua yang tertulis indah
Terhapus begitu saja
Kenangan ini akan kuukir dalam memoriku
Tak akan ku biarkan pergi bersama matahari
Kau yang pertama
Dan tetap menjadi yang pertama
Kau tak terlupa
Sampai mata ini tak melihat
Sampai nafas ini terhenti
Sampai jantung ini tak berdetak

MATERI DUTA BACA SMK NEGERI 2 SOE


MATERI DUTA BACA
SMK NEGERI 2 SOE TAHUN 2018/2019
 

OLEH: KOLLO YEROBIAM OEMATAN,S.Pd

Syalom…
Salam sejahtera untuk kita semua.
Yang terhormat bapak/ibu dewan juri. Yang saya hormati  teman-teman peserta lomba yang hadir disini. Singkatnya hadirin yang saya kasihi.
Patut kita bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan yang Maha Kuasa karena atas berkat dan rahmat-Nya kepada kita sehingga dapat berkumpul di tempat ini untuk mengikuti lomba “Duta Baca” dengan tema “Menumbuh Kembangkan Kegemaran Membaca dan Kecintaan Terhadap Budaya Lokal Dalam Upaya Membangun Karakter, Kecerdasan dan Inovasi Generasi Muda NTT” dalam keadaan sehat walafiat.
Minat baca masyarakat Indonesia tergolong masih sangat rendah. UNESCO pada tahun 2012 melaporkan bahwa indeks minat baca warga Indonesia baru mencapai angka 0,001. Artinya dalam setiap 1.000 orang Indonesia, hanya ada satu orang yang memiliki minat baca. Keinginan untuk meningkatkan minat membaca di kalangan peserta didik di sekolah ternyata tidak mudah mewujudkannya.
Saya setuju, rendahnya minat membaca suatu bangsa akan tercermin dari rendahnya minat membaca masyarakatnya. Dan rendahnya minat membaca masyarakat dapat diukur dan dilihat dari seberapa besar minat membaca para peserta didik di sekolah. Tinggi rendahnya minat membaca siswa secara langsung akan menentukan minat membaca masyarakat sebagai stake holder sekolah itu sendiri. Inilah fakta bahwa budaya membaca itu memang belum juga ada.
Untuk melihat rendahnya minat membaca di sekolah dengan mudah dapat diukur dari daftar kunjungan siswa ke Perpustakaan sekolah sendiri. Inilah yang memprihatinkan. Ternyata sampai saat ini, terbukti tingkat kunjungan warga sekolah ke Perpustakaan Sekolah secara umum sangatlah rendah. Rata-rata siswa yang mengunjungi perpustakaan di sekolahnya tergolong kecil. Terlebih sekolah-sekolah yang berada di daerah-daerah. Perpusatakaan masih belum menjadi tempat yang menyenangkan. Pengunjungnya masih sangat rendah.
Mengapa minat membaca siswa begitu rendah?
1.     Sistem pembelajaran di Indonesia belum membuat siswa harus membaca buku lebih banyak dari apa yang diajarkan dan mencari informasi atau pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan di kelas.
2.      Kurangnya dorongan dari para guru agar siswa membaca secara rutin
3.     Banyaknya hiburan TV dan permainan di rumah atau di luar rumah yang membuat  perhatian siswa untuk menjauhi buku.
4.     Sifat malas yang merajalela
5.     Kurang menariknya perpustakaan sekolah bagi siswa
6.     Budaya baca  masih belum diwariskan oleh nenek moyang kita
7.     Buku dirasakan oleh masyarakat umum sangat mahal
Budaya Baca Indonesia Ada di Urutan ke-60 Dunia” dari 61 negara yang disurvei tingkat minta membacanya. Ini berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World” yang dirilis Central Connecticut State University pada bulan Maret 2016 lalu. Minat baca kita sangat memperihatinkan di mata dunia. Indonesia persis berada di bawah Thailand dengan urutan 59 dan di atas Bostwana urutan 61. Sedangkan kita yang saat ini pada wilayah Nusa Tenggara Timur sesuai informasi yang diperoleh badan perpustakaan provinsi NTT mengatakan bahwa 18% masyarakat NTT yang membaca Koran, majalah dan buku, sementara 90% masyarakat lebih suka menonton televisi.
Berdasarkan paparan ini maka dapat kita tinjau kembali bahwa minat baca masyarakat diseluruh kabupatan yang ada di Nusa Tenggara Timur termasuk kita di Timor Tengah Selatan masih minim dan berdasarkan hasil porsentase minat baca masyarakat NTT diatas maka Nusa Tenggara Timur salah satu provinsi penyumbang minat baca rendah
Factor penyebabnya Rendahnya minat baca dapat bersifat personal dan institusional. Factor personal antara lain: inteligensi usia, jenis kelamin, kemampuan membaca, sikap dan kebutuhan psikologis. Sedangngkan factor institusional antara lain tersedianya bacaan yang sesuai, latar belakang social ekonomi, dan kelompok etnis serta pengaruh teman sebaya, orang tua, guru, televisi dan film ementara dikalangan remaja factor rendahnya minat baca antara lain:
Lingkungan yang pertama kali kita kenal adalah lingkungan keluarga. Siswa Kurangnya Kesadaran  meskipun kedua faktor di atas tidak ada, hobi membaca tidak akan tercipta jika kita tidak menanamkan kesadaran akan manfaat membaca. Namun sebaliknya, meskipun kedua faktor di atas ada,  jika masing-masing individu menanamkan rasa kesadaran akan pentingnya membaca, tentu saja hobi membaca akan muncul dalam diri kita dan membaca akan menjadi kebutuhan bagi diri kita, Rendahnya Motivasi dari berbagai pihak amat dibutuhkan. Di sekolah motivasi dan tauladan dibawa oleh sosok guru. Motivasi terpokok yaitu motivasi dari diri sendiri yang harus ditumbuhkan sehingga dapat memberikan pedoman yang kuat dan tetap konsisten untuk senantiasa membaca.
 Kondisi perpustakaan di kabupaten-kabupaten yang provinsi Nusa Tenggara Timur jarang dilakukan kegiatan-kegiatan ilmiah. Referensi buku yang terbatas menyebabkan minat baca di kalangan generasi muda menurun, jangankan untuk membacanya, mendatanginya pun tidak suka karena terbatasnya referensi buku–buku di perpustakaan. 
Berdasarkan penelitian Deputi Pengembangan Perpustakaan Nasional RI (Adiningsih, 2002)  baru menunjukkan 5% dari sekitar 300.000 sekolah SD hingga SMU/SMK di Indonesia serta baru 20% dari 66.000 desa/kelurahan yang memiliki perpustakaan memadai. Diperparah lagi dengan penataan ruangan, penataan buku yang kurang rapi menjadi alasan seseorang enggan untuk pergi ke perpustakaan dalam rangka membaca dan mencari sumber referensi. Selain itu pelayanan, pencahayaan dan sirkulasi udara juga turut menjadi pertimbangan seseorang akan mengunjungi perpustakaan. Faktor ini dapat menjadikan seseorang yang awalnya sudah berniat ataupun sudah mengunjungi perpustakaan akan enggan melanjutkan kegiatannya di perpustakaan.
Faktor-faktor penyebab yang telah saya paparkan tadi akan membawa dampak yang merugikan, diantaranya:
1.    Mengalami kesulitan memahami, menguasai, mentransfer, dan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) untuk produksi barang dan jasa bermutu
2.    Generasi muda akan mudah dipengaruhi atau didoktrin oleh pemahaman–pemahaman yang negatif.
3.   Keterbatasan ilmu pengetahuan menjadikan seseorang memiliki dasar yang dangkal. Seseorang seperti ini pastilah akan mudah dipengaruhi oleh pemahaman-pemahaman yang negatif.
4.   Tidak berkembangnya kreativitas.
Kreatifitas akan muncul apabila seseorang mengembangkan pola berfikir serta tanggap terhadap lingkungan sekitar. Pengembangan pola berfikir ini diperoleh dalam kegiatan membaca. Pola fikir yang berkembang menjadikan tanggap terhadap lingkungan sehingga memunculkan ide-ide kreatif. 
5.   Tidak mengetahui informasi terbaru atau kurang update sehingga sulit untuk memajukan diri sendiri maupun lingkungan.
6.   Generasi muda menjadi miskin akan wawasan, karena tidak adanya kefahaman dan wawasan yang cukup terhadap ilmu pengetahuan dan mengenai apa yang terjadi. Remaja cenderung kurang peduli terhadap apa yang terjadi disekitarnya dan memilih menutup diri mementingkan trend yang sedang hangat.
 Bangsa akan kehilangan aset terpenting yaitu para pemuda, karena para pemuda tidak menumbuhkan rasa cinta terhaadap bacaan sejarah dan kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh pahlawan pendahulu.

Solusi agar minat baca siswa meningkat adalah memotivasi siswa untuk mewujudkan minat baca yang tinggi. Selain peran serta guru dalam meningkatkan minat baca, orang tua pun berperan aktif membantu meningkatkan minat baca siswa. Dengan adanya kerja sama antara guru dan orang tua serta membuat kegiatan yang rekreatif dan edukatif diharapkan dapat membangun minat baca di kalangan siswa sekolah. Yang kedua memberikan pemahaman bahwa pentingnya membaca, dan membuat suasana perpustakaan menjadi nyaman agar siswa semakin betah di perpustakaan.
Harapan saya minat baca siswa di Indonesia bisa sejajar dengan pendidikan di negara-negara lain yang minat bacanya jauh lebih baik. Bagaimana bangsa kita bisa cerdas jika setiap pelajarnya enggan untuk membacanya. Tinggi rendahnya minat baca suatu bangsa amat menentukan kualitas sumber daya manusia, sedangkan kualitas sumber daya manusia sangat menentukan perkembangan suatu bangsa.




Karya Tulis


Semangat Generasi Muda Dalam Konstribusi Indonesia Sudah Berkurang?
Oleh : Dhea Aulia Fauziah
Bimbingan : Yerobiam Oematan,S.Pd
Pendahuluan
Generasi muda adalah ujung tombak dalam mengantarkan bangsa dan negara menuju kemerdekaannya. Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia generasi muda dengan penuh semangat mengusir penjajah demi mewujudkan kemerdekaan, generasi muda saat itu dengan penuh semangat memberikan apa yang perlu diberikan, melaksanakan apa yang bisa dilaksanakan dengan semangat untuk memajukan bangsa kita Indonesia.
Namun dimasa sekarang kita melihat bahwa banyak generasi muda yang melakukan hal-hal yang tidak baik. Bagaimana bisa generasi muda mewujudkan kesejahteraan dan kemajuan bangsa jika mereka tidak mempunyai jiwa nasionalisme? Karena itu kita perlu menanamkan semangat nasionalisme ini pada generasi muda era sekarang. Semestinya kita generasi muda saat ini lebih mampu memberikan konstribusi yang lebih besar demi mewujudkan cita-cita bangsa.
Semangat generasi muda dalam konstribusi Indonesia sudah berkurang?
Generasi muda adalah tiang negara karena pemuda sangat dibutuhkan sebagai generasi penerus bangsa, sehingga dengan peran serta pemuda dalam peningkatan mutu bangsa sangat berperan dalam maju atau mundurnya suatu negara.
Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda (generasi muda) niscaya akan kuguncangkan dunia. - Soekarno
Itulah sepenggal pidato Soekarno, founding father bangsa ini, yang mengisyaratkan begitu penting peran generasi muda dalam mengubah kehidupan bangsa.
Kaum Muda Indonesia adalah masa depan Bangsa , masa depan Bangsa Indonesia sangatlah ditentukan oleh para generasi muda Bangsa ini. Karena itu, setiap generasi Indonesia, baik yang masih berstatus pelajar, mahasiswa ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya merupakan factor-faktor penting yang sangat diandalkan oleh Bangsa Indonesia dalam mewujudkan cita-cita bangsa dan juga mempertahankan kedaulatan Bangsa. Generasi muda menjadi harapan dalam setiap kemajuan di dalam suatu bangsa. Merekalah yang dapat merubah pandangan orang terhadap suatu bangsa dan menjadi tumpuan para generasi terdahulu untuk mengembangkan suatu bangsa dengan ide-ide ataupun  gagasan yang berilmu, wawasan yang luas, serta berdasarkan kepada nilai-nilai dan norma yang berlaku di dalam masyarakat. Bangsa yang maju akan jauh lebih maju bila mempunyai generasi yang berkualitas.
Konstribusi adalah sesuatu yang dilakukan untuk membantu menghasilkan atau mencapai sesuatu bersama-sama dengan orang lain, atau untuk membantu membuat sesuatu yang sukses. Lalu kontribusi apa yang dapat generasi muda berikan untuk kemajuan bangsa dan negaranya? Kontribusi untuk kemajuan sudah tentu merupakan kontribusi yang positif. Kontribusi positif dapat dituangkan dalam berbagai bentuk. Banyak yang mengira berkontribusi untuk bangsa ini harus dilakukan dengan gerakan yang besar dan melibatkan orang banyak. Namun sebenarnya, berkontribusi untuk Negara bias diwujudkan dengan hal-hal kecil yang kita lakukan sehari-hari seperti belajar dengan baik, berguna bagi lingkungan, mengembangkan pemikiran kritis, berprestasi di kancah Internasional dan masih banyak lagi.
Disadari atau tidak, generasi muda sejatinya memiliki peran dan fungsi yang strategis dalam akselerasi pembangunan. Baik buruknya suatu Negara dilihat dari kualitas generasi mudanya, karena generasi muda adalah penerus dan pewaris bangsa dan Negara. Generasi muda harus mempunyai karakter yang kuat untuk membangun bangsa dan negaranya, memiliki kepribadian tinggi, semangat nasionalisme, berjiwa saing, mampu memahami pengetahuan dan teknologi untuk bersaing secara global. Hal ini juga membuktikan bahwa generasi muda adalah tulang punggung pembangunan nasional. Sebagai penerus bangsa, generasi muda berarti menanggung harga dan martabat bangsa Indonesia terutama di dunia Internasional, dimana persaingan dan penjajahan identitas bangsa dapat berlangsung di berbagai macam bidang kehidupan. Tanpa adanya peranan generasi muda atau pemuda Indonesia maka bangsa Indonesia pastinya akan sulit mengalami perubahan dan akan mudah pula kehilangan identitas bangsa Indonesia.
Lalu, apakah generasi muda sekarang telah berkonstribusi secara maksimal terhadap bangsa ini? Pertanyaan itulah yang sering terlintas dipemikiran kita. Nyatanya sebagian besar pelajar lebih mementingkan smartphone dari pada membaca. Faktanya, setiap kita jalan (entah di trotoar, di manapun itu) pasti kita tidak pernah melihat orang yang tidak memegang smartphone.
Membaca merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Pepatah “Buku adalah jendela dunia” mungkin relevansinya tidak pernah pudar walaupun arus informasi dunia internet sudah mengubah gaya membaca kita dari buku cetak ke digital. Semua orang di zaman ini gampang mengakses bacaan lewat smartphone. Mau baca berita tinggal klik, mau baca buku tinggal download dan bisa langsung membaca lewat layar smartphone. Di dunia digital sekalipun pepatah di atas relevansinya masih sangat berpengaruh di zaman ini, bahwa dengan membaca kita dapat mengetahui informasi-informasi yang tiada batas dari mana saja, bahkan dari penjuru dunia sekalipun.
Namun berdasarkan riset yang dilakukan oleh UNESCO, indeks minat baca indonesia hanya 0,001 persen artinya dari 1.000 penduduk hanya 1 orang yang serius membaca. Data dari survey BPS juga mencatat tingkat minat baca anak-anak Indonesia hanya 17,66 persen, sementara minat menonton mencapai 91,67 persen. Hasil penelitian ini dapat menjadikan acuan bagi bangsa Indonesia untuk terus membenahi diri meningkatkan minat baca generasi Indonesia.
Tidak heran yang disampaikan sastrawan senior Taufiq Ismail dalam sebuah audiensi dengan Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) tahun 2010. “Tragedi nol buku” sebuah ungkapan keprihatinan dari seseorang sastrawan senior terhadap budaya bangsa ini. Kalimat tersebut lahir dari kontemplasi beliau melihat budaya baca bangsa ini. Budaya baca yang sangat rendah. Taufiq Ismail melakukan penelitian tentang kewajiban membaca buku. Ternyata hasil penelitiannya sungguh mengejutkan. Siswa SMA Indonesia tidak wajib membaca buku sastra sama sekali sehingga dianggap sebagai siswa yang bersekolah tanpa kewajiban membaca.
Sedih melihat budaya kita yang semakin jauh dari tradisi membaca. Membaca turun derajatnya dengan menjadi sekedar anjuran, himbauan, dan ajakan. Keprihatinan Taufiq Ismail tersebut sangat beralasan, didukung oleh sebuah fakta atau temuan dari berbagai lembaga yang melakukan studi tentang hal tersebut. Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2009 melakukan studi tentang minat baca terhadap 65 negara. Dari studi PISA tersebut, Indonesia menempati urutan ke-57 dari 65 negera yang di survei tentang minat baca. Indonesia masih kalah dengan Thailand, yang menempati posisi ke-50. Bila dibandingkan dengan Jepang, jarak Indonesia semakin lebih jauh. Jepang menempati posisi ke-8 dalam hasil survei tersebut. Lemahnya minat baca di Indonesia didukung oleh banyak faktor, mulai dari akses terhadap bahan bacaan yang sangat minim karena akses bahan bacaan baru tersebar di kota besar saja belum sampai ke pelosok Tanah Air.
Semua menyadari bahwa buku menjadi salah satu pilar penting dalam membangun karakter bangsa. Karena buku bukan sekedar memberikan kita segudang ilmu pengetahuan atau sekedar memuaskan dahaga intelektualisme kita. Mengenyangkan akal kita semata. Namun, buku juga memiliki peran dalam membentuk cara berpikir, bertutur, dan berbuat. Buku bisa menguatkan jiwa yang ringkih. Itulah buku, benda yang memiliki andil besar dalam melahirkan peradaban-peradaban besar di muka bumi ini.
Coba kita lihat bagaimana Jepang membangun bangsanya dengan membaca. Negeri sakura ini bangkit dari keterpurukannya dimulai dengan membiasakan budaya membaca kepada seluruh masyarakatnya. Langkah awal yang dilakukan oleh Jepang ini adalah dengan memberantas buta huruf untuk membangun SDMnya. Lalu kemudian mendisiplinkan budaya membaca kepada masyarakatnya sejak dini. Di Jepang ada program atau gerakan yang bernama 20 minutes reading of mother and child. Gerakan atau program ini mengharuskan seorang ibu untuk mengajak anaknya membaca buku 20 menit sebelum tidur. Ini merupakan salah satu contoh dari upaya Jepang dalam meningkatkan budaya baca warganya. Lalu langkah yang dilakukan mereka adalah dengan mengirim pelajar-pelajar Jepang ke luar negeri dengan misi membangun bangsanya sendiri.
Kita liat saja contoh generasi muda Indonesia yang telah berperan besar dalam pembangunan Bangsa setelah menuntut ilmu di luar negeri :
·         Ferry Unardi
Pendiri Traveloka Ferry Unardi, lahir pada 16 Januari 1988 di kota Padang. Setelah menyelesaikan pendidikan di sekolah menengah, Ferry memutuskan untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Purdue Universitydi West Lafayette, Indiana, Amerika Serikat jurusan Computer Science and Engineering. Setelah menyelesaikan pendidikan S1, beliau memutuskan untuk bekerja di Microsoft, Seattle. Dengan tingkat persaingan yang tinggi, Ferry menilai bahwa kariernya di Microsoft akan sulit naik. Beliau kemudian memutuskan untuk berhenti bekerja dan melanjutkan studinya. Sambil menjalani studi di Harvard University, Ferry Unardi tertarik untuk mengembangkan perusahaan rintisan (startup). Beliau memilih bidang mesin pencari tiket pesawat. Karena ide inilah, lahir Traveloka, startup di bidang reservasi tiket yang tergolong baru dan langsung menarik perhatian para investor. Sejauh ini, Traveloka sudah mendapatkan pendanaan dari beberapa perusahaan modal ventura (venture capital). Berarti Ferry Unardi telah turut dalam konstribusi besar bangsa dalam memajukan bangsa lewat teknologi.
Dalam membangun bangsa bukan saja diperlukan akademik yang bagus kita juga harus tetap mengingat dan menjaga budaya kita agar tidak ditelan arus globalisasi. Banyak generasi muda yang lebih bangga menggunakan brand ternama luar negeri dari pada brand local. Padahal memakai produk lokal merupakan wujud cinta tanah air. Jika kita ingin melihat di NTT rasa cinta budaya mereka sangat tinggi, seperti peraturan yang mengharuskan siswa/i menggunakan rompi tenun setiap hari kamis. Tidak kalah dari para murid, akhirnya Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat menetapkan peraturan menggunakan kain tenun  motif setiap hari selasa dan jumat bagi seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN).
Kebijakan ini, akan mendorong semangat para penenun yang sebagian besar ada di pelosok-pelosok desa di NTT. Selama ini, tenunan biasanya hanya jadi pajangan di lemari dan dipakai hanya pada saat upacara adat. Sementara, ASN provinsi yang sebagian besar berada di Nusa Tenggara Timur  juga jarang terlibat acara adat tersebut, karena situasi kota yang sudah terkontaminasi budaya modern. Kalaupun mau ikut acara, para ASN biasa pinjam tenunan milik orang lain karena harga kain tenun yang mahal. Tapi, dengan aturan yang mewajibkan ini, ASN tentu harus punya kain tenun minimal dua, ditambah motif tenun satu. Tentu ini juga sangat membanggakan ibu-ibu penenun di desa, juga menyemangati mereka. Dari sisi ekonomi, kehidupan para penenun juga membaik.
Hal ini didasari oleh keinginan melestarrikan dan  menjaga budaya kita agar tidak musnah di telan modernisasi. Karena budaya merupakan indentitas bangsa kita. Apa artinya sebuah bangsa tanpa indentitas. Maka marilah kita para generasi muda juga turut serta dalam melestarikan budaya.

Kesimpulan dan saran
kita para generasi muda tidak boleh menutup mata dan harus mulai sadar akan tanggung jawab kita terhadap bangsa ini, karena masa depan bangsa ini berada di tangan kita. Generasi muda tidak boleh membuang-buang waktu dengan hal yang tidak penting, bagaimana kita bisa mewujudkan cita-cita bangsa jika kita tidak turut serta berkonstribusi pada Negara. Marilah kita berkonstribusi dengan hal-hal kecil seperti membaca dan melestarikan budaya.
Buku, demikian besar pengaruhnya dalam menentukan arah dan kebesaran sebuah peradaban. Tidak heran bila banyak negara begitu peduli terhadap minat baca bangsanya. Berbagai langkah dan upaya dilakukan agar minat baca warganya meningkat. Demikian peran pemerintah pun penting untuk meningkatkan minat baca. Alangkah baik jika bangsa kita menerapkan program membaca, contohnya 1 minggu satu buku untuk siswa, mengingat pentingnya membaca untuk membantu pembangunan bangsa.
Dan juga tidak kalah penting bagi kita generasi muda untuk tetap menjaga dan melestarikan budaya, alangkah baiknya jika kita lebih mencintai produk sendiri. Jika seluruh Indonesia menerapkan program seperti/mirip yang di terapkan di NTT maka secara tidak langsung generasi muda akan mulai mengenal budaya mereka yang mungkin belum mereka ketahui dan ikut melestarikannya sejak dini.
Kita perlu lebih jeli dalam mendapatkan kesempatan dan peluang untuk maju. Dari kesempatan dan peluang yang kita dapat, bias kita jadikan batulompatan untuk mengembangkan kualitas diri kita dalam memberikan kontribusi yang positif. Mari kita sesama generasi muda saling bergandengan tangan, saling menginspirasi, samakan visi, bersatu, dan saling bekerjasama untuk maju bersama. Untuk kepentingan kita bersama, untuk kepentingan bangsa dan negara Indonesia. Tetap semangat! Kita harus yakin kita bisa. Maju terus pantang mundur!!