MATERI
DUTA BACA
SMK
NEGERI 2 SOE TAHUN 2018/2019
OLEH: KOLLO YEROBIAM OEMATAN,S.Pd
Syalom…
Salam sejahtera untuk kita
semua.
Yang
terhormat bapak/ibu dewan juri. Yang saya hormati teman-teman peserta lomba yang hadir disini.
Singkatnya hadirin yang saya kasihi.
Patut
kita bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan yang Maha Kuasa karena atas
berkat dan rahmat-Nya kepada kita sehingga dapat berkumpul di tempat ini untuk
mengikuti lomba “Duta Baca” dengan tema “Menumbuh Kembangkan Kegemaran Membaca
dan Kecintaan Terhadap Budaya Lokal Dalam Upaya Membangun Karakter, Kecerdasan
dan Inovasi Generasi Muda NTT” dalam keadaan sehat walafiat.
Minat
baca masyarakat Indonesia tergolong masih sangat rendah. UNESCO pada tahun 2012
melaporkan bahwa indeks minat baca warga Indonesia baru mencapai angka 0,001.
Artinya dalam setiap 1.000 orang Indonesia, hanya ada satu orang yang memiliki
minat baca. Keinginan untuk meningkatkan minat membaca di kalangan peserta
didik di sekolah ternyata tidak mudah mewujudkannya.
Saya
setuju, rendahnya minat membaca suatu bangsa akan tercermin dari rendahnya
minat membaca masyarakatnya. Dan rendahnya minat membaca masyarakat dapat
diukur dan dilihat dari seberapa besar minat membaca para peserta didik di
sekolah. Tinggi rendahnya minat membaca siswa secara langsung akan menentukan
minat membaca masyarakat sebagai stake holder sekolah itu
sendiri. Inilah fakta bahwa budaya membaca itu memang belum juga ada.
Untuk
melihat rendahnya minat membaca di sekolah dengan mudah dapat diukur dari
daftar kunjungan siswa ke Perpustakaan sekolah sendiri. Inilah yang
memprihatinkan. Ternyata sampai saat ini, terbukti tingkat kunjungan warga
sekolah ke Perpustakaan Sekolah secara umum sangatlah rendah. Rata-rata siswa
yang mengunjungi perpustakaan di sekolahnya tergolong kecil. Terlebih
sekolah-sekolah yang berada di daerah-daerah. Perpusatakaan masih belum menjadi
tempat yang menyenangkan. Pengunjungnya masih sangat rendah.
Mengapa minat membaca siswa begitu rendah?
Mengapa minat membaca siswa begitu rendah?
1.
Sistem
pembelajaran di Indonesia belum membuat siswa harus membaca buku lebih banyak
dari apa yang diajarkan dan mencari informasi atau pengetahuan lebih dari apa
yang diajarkan di kelas.
2.
Kurangnya dorongan dari para guru agar siswa
membaca secara rutin
3.
Banyaknya
hiburan TV dan permainan di rumah atau di luar rumah yang
membuat perhatian siswa untuk menjauhi buku.
4.
Sifat
malas yang merajalela
5.
Kurang
menariknya perpustakaan sekolah bagi siswa
6.
Budaya
baca masih belum diwariskan oleh nenek moyang kita
7.
Buku
dirasakan oleh masyarakat umum sangat mahal
Budaya Baca Indonesia Ada di
Urutan ke-60 Dunia” dari 61 negara yang disurvei tingkat minta membacanya. Ini
berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World” yang dirilis Central
Connecticut State University pada bulan Maret 2016 lalu. Minat baca kita sangat
memperihatinkan di mata dunia. Indonesia persis berada di bawah Thailand dengan
urutan 59 dan di atas Bostwana urutan 61. Sedangkan kita yang saat ini pada
wilayah Nusa Tenggara Timur sesuai informasi yang diperoleh badan perpustakaan
provinsi NTT mengatakan bahwa 18% masyarakat NTT yang membaca Koran, majalah
dan buku, sementara 90% masyarakat lebih suka menonton televisi.
Berdasarkan
paparan ini maka dapat kita tinjau kembali bahwa minat baca masyarakat
diseluruh kabupatan yang ada di Nusa Tenggara Timur termasuk kita di Timor
Tengah Selatan masih minim dan berdasarkan hasil porsentase minat baca
masyarakat NTT diatas maka Nusa Tenggara Timur salah satu provinsi penyumbang
minat baca rendah
Factor penyebabnya Rendahnya
minat baca dapat bersifat personal dan institusional. Factor personal antara
lain: inteligensi usia, jenis kelamin, kemampuan membaca, sikap dan kebutuhan
psikologis. Sedangngkan factor institusional antara lain tersedianya bacaan
yang sesuai, latar belakang social ekonomi, dan kelompok etnis serta pengaruh
teman sebaya, orang tua, guru, televisi dan film ementara dikalangan remaja
factor rendahnya minat baca antara lain:
Lingkungan yang pertama kali kita kenal adalah lingkungan
keluarga. Siswa Kurangnya Kesadaran meskipun kedua faktor di atas tidak ada, hobi membaca
tidak akan tercipta jika kita tidak menanamkan kesadaran akan manfaat membaca.
Namun sebaliknya, meskipun kedua faktor di atas ada, jika
masing-masing individu menanamkan rasa kesadaran akan pentingnya membaca, tentu
saja hobi membaca akan muncul dalam diri kita dan membaca akan menjadi
kebutuhan bagi diri kita, Rendahnya
Motivasi dari berbagai
pihak amat dibutuhkan. Di sekolah motivasi dan tauladan dibawa oleh sosok guru.
Motivasi terpokok yaitu motivasi dari diri sendiri yang harus ditumbuhkan
sehingga dapat memberikan pedoman yang kuat dan tetap konsisten untuk
senantiasa membaca.
Kondisi
perpustakaan di kabupaten-kabupaten yang provinsi
Nusa Tenggara Timur jarang
dilakukan kegiatan-kegiatan ilmiah. Referensi buku yang terbatas menyebabkan minat baca di
kalangan generasi muda menurun, jangankan untuk membacanya, mendatanginya pun tidak suka karena
terbatasnya referensi buku–buku di perpustakaan.
Berdasarkan
penelitian Deputi Pengembangan Perpustakaan Nasional RI (Adiningsih,
2002) baru menunjukkan 5% dari sekitar 300.000 sekolah SD hingga
SMU/SMK di Indonesia serta baru 20% dari 66.000 desa/kelurahan yang memiliki
perpustakaan memadai.
Diperparah lagi dengan penataan ruangan, penataan buku yang kurang rapi menjadi
alasan seseorang enggan untuk pergi ke perpustakaan dalam rangka membaca dan
mencari sumber referensi. Selain itu pelayanan, pencahayaan dan sirkulasi udara
juga turut menjadi pertimbangan seseorang akan mengunjungi perpustakaan. Faktor
ini dapat menjadikan seseorang yang awalnya sudah berniat ataupun sudah
mengunjungi perpustakaan akan enggan melanjutkan kegiatannya di perpustakaan.
Faktor-faktor penyebab
yang telah saya paparkan tadi akan membawa dampak yang merugikan, diantaranya:
1. Mengalami
kesulitan memahami, menguasai, mentransfer, dan menggunakan ilmu pengetahuan
dan teknologi (IPTEK) untuk produksi barang dan jasa bermutu
2. Generasi
muda akan mudah dipengaruhi atau didoktrin oleh pemahaman–pemahaman yang
negatif.
3. Keterbatasan
ilmu pengetahuan menjadikan seseorang memiliki dasar yang dangkal. Seseorang
seperti ini pastilah akan mudah dipengaruhi oleh pemahaman-pemahaman yang
negatif.
4. Tidak
berkembangnya kreativitas.
Kreatifitas akan muncul apabila seseorang mengembangkan
pola berfikir serta tanggap terhadap lingkungan sekitar. Pengembangan pola
berfikir ini diperoleh dalam kegiatan membaca. Pola fikir yang berkembang
menjadikan tanggap terhadap lingkungan sehingga memunculkan ide-ide
kreatif.
5. Tidak
mengetahui informasi terbaru atau kurang update sehingga sulit
untuk memajukan diri sendiri maupun lingkungan.
6. Generasi muda
menjadi miskin akan wawasan, karena tidak adanya kefahaman dan wawasan yang
cukup terhadap ilmu pengetahuan dan mengenai apa yang terjadi. Remaja cenderung
kurang peduli terhadap apa yang terjadi disekitarnya dan memilih menutup diri
mementingkan trend yang sedang hangat.
Bangsa
akan kehilangan aset terpenting yaitu para pemuda, karena para pemuda tidak
menumbuhkan rasa cinta terhaadap bacaan sejarah dan kemerdekaan yang telah diperjuangkan
oleh pahlawan pendahulu.
Solusi
agar minat baca siswa meningkat adalah memotivasi siswa untuk mewujudkan
minat baca yang tinggi. Selain peran serta guru dalam meningkatkan minat
baca, orang tua pun berperan aktif membantu meningkatkan minat baca siswa.
Dengan adanya kerja sama antara guru dan orang tua serta membuat kegiatan yang
rekreatif dan edukatif diharapkan dapat membangun minat baca di kalangan
siswa sekolah. Yang kedua memberikan pemahaman bahwa pentingnya membaca, dan
membuat suasana perpustakaan menjadi nyaman agar siswa semakin betah di
perpustakaan.
Harapan
saya minat baca siswa di Indonesia bisa sejajar dengan pendidikan di
negara-negara lain yang minat bacanya jauh lebih baik. Bagaimana bangsa
kita bisa cerdas jika setiap pelajarnya enggan untuk membacanya. Tinggi
rendahnya minat baca suatu bangsa amat menentukan kualitas sumber daya manusia,
sedangkan kualitas sumber daya manusia sangat menentukan perkembangan suatu
bangsa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar