Rabu, 02 Oktober 2019

MATERI DUTA BACA SMK NEGERI 2 SOE


MATERI DUTA BACA
SMK NEGERI 2 SOE TAHUN 2018/2019
 

OLEH: KOLLO YEROBIAM OEMATAN,S.Pd

Syalom…
Salam sejahtera untuk kita semua.
Yang terhormat bapak/ibu dewan juri. Yang saya hormati  teman-teman peserta lomba yang hadir disini. Singkatnya hadirin yang saya kasihi.
Patut kita bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan yang Maha Kuasa karena atas berkat dan rahmat-Nya kepada kita sehingga dapat berkumpul di tempat ini untuk mengikuti lomba “Duta Baca” dengan tema “Menumbuh Kembangkan Kegemaran Membaca dan Kecintaan Terhadap Budaya Lokal Dalam Upaya Membangun Karakter, Kecerdasan dan Inovasi Generasi Muda NTT” dalam keadaan sehat walafiat.
Minat baca masyarakat Indonesia tergolong masih sangat rendah. UNESCO pada tahun 2012 melaporkan bahwa indeks minat baca warga Indonesia baru mencapai angka 0,001. Artinya dalam setiap 1.000 orang Indonesia, hanya ada satu orang yang memiliki minat baca. Keinginan untuk meningkatkan minat membaca di kalangan peserta didik di sekolah ternyata tidak mudah mewujudkannya.
Saya setuju, rendahnya minat membaca suatu bangsa akan tercermin dari rendahnya minat membaca masyarakatnya. Dan rendahnya minat membaca masyarakat dapat diukur dan dilihat dari seberapa besar minat membaca para peserta didik di sekolah. Tinggi rendahnya minat membaca siswa secara langsung akan menentukan minat membaca masyarakat sebagai stake holder sekolah itu sendiri. Inilah fakta bahwa budaya membaca itu memang belum juga ada.
Untuk melihat rendahnya minat membaca di sekolah dengan mudah dapat diukur dari daftar kunjungan siswa ke Perpustakaan sekolah sendiri. Inilah yang memprihatinkan. Ternyata sampai saat ini, terbukti tingkat kunjungan warga sekolah ke Perpustakaan Sekolah secara umum sangatlah rendah. Rata-rata siswa yang mengunjungi perpustakaan di sekolahnya tergolong kecil. Terlebih sekolah-sekolah yang berada di daerah-daerah. Perpusatakaan masih belum menjadi tempat yang menyenangkan. Pengunjungnya masih sangat rendah.
Mengapa minat membaca siswa begitu rendah?
1.     Sistem pembelajaran di Indonesia belum membuat siswa harus membaca buku lebih banyak dari apa yang diajarkan dan mencari informasi atau pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan di kelas.
2.      Kurangnya dorongan dari para guru agar siswa membaca secara rutin
3.     Banyaknya hiburan TV dan permainan di rumah atau di luar rumah yang membuat  perhatian siswa untuk menjauhi buku.
4.     Sifat malas yang merajalela
5.     Kurang menariknya perpustakaan sekolah bagi siswa
6.     Budaya baca  masih belum diwariskan oleh nenek moyang kita
7.     Buku dirasakan oleh masyarakat umum sangat mahal
Budaya Baca Indonesia Ada di Urutan ke-60 Dunia” dari 61 negara yang disurvei tingkat minta membacanya. Ini berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World” yang dirilis Central Connecticut State University pada bulan Maret 2016 lalu. Minat baca kita sangat memperihatinkan di mata dunia. Indonesia persis berada di bawah Thailand dengan urutan 59 dan di atas Bostwana urutan 61. Sedangkan kita yang saat ini pada wilayah Nusa Tenggara Timur sesuai informasi yang diperoleh badan perpustakaan provinsi NTT mengatakan bahwa 18% masyarakat NTT yang membaca Koran, majalah dan buku, sementara 90% masyarakat lebih suka menonton televisi.
Berdasarkan paparan ini maka dapat kita tinjau kembali bahwa minat baca masyarakat diseluruh kabupatan yang ada di Nusa Tenggara Timur termasuk kita di Timor Tengah Selatan masih minim dan berdasarkan hasil porsentase minat baca masyarakat NTT diatas maka Nusa Tenggara Timur salah satu provinsi penyumbang minat baca rendah
Factor penyebabnya Rendahnya minat baca dapat bersifat personal dan institusional. Factor personal antara lain: inteligensi usia, jenis kelamin, kemampuan membaca, sikap dan kebutuhan psikologis. Sedangngkan factor institusional antara lain tersedianya bacaan yang sesuai, latar belakang social ekonomi, dan kelompok etnis serta pengaruh teman sebaya, orang tua, guru, televisi dan film ementara dikalangan remaja factor rendahnya minat baca antara lain:
Lingkungan yang pertama kali kita kenal adalah lingkungan keluarga. Siswa Kurangnya Kesadaran  meskipun kedua faktor di atas tidak ada, hobi membaca tidak akan tercipta jika kita tidak menanamkan kesadaran akan manfaat membaca. Namun sebaliknya, meskipun kedua faktor di atas ada,  jika masing-masing individu menanamkan rasa kesadaran akan pentingnya membaca, tentu saja hobi membaca akan muncul dalam diri kita dan membaca akan menjadi kebutuhan bagi diri kita, Rendahnya Motivasi dari berbagai pihak amat dibutuhkan. Di sekolah motivasi dan tauladan dibawa oleh sosok guru. Motivasi terpokok yaitu motivasi dari diri sendiri yang harus ditumbuhkan sehingga dapat memberikan pedoman yang kuat dan tetap konsisten untuk senantiasa membaca.
 Kondisi perpustakaan di kabupaten-kabupaten yang provinsi Nusa Tenggara Timur jarang dilakukan kegiatan-kegiatan ilmiah. Referensi buku yang terbatas menyebabkan minat baca di kalangan generasi muda menurun, jangankan untuk membacanya, mendatanginya pun tidak suka karena terbatasnya referensi buku–buku di perpustakaan. 
Berdasarkan penelitian Deputi Pengembangan Perpustakaan Nasional RI (Adiningsih, 2002)  baru menunjukkan 5% dari sekitar 300.000 sekolah SD hingga SMU/SMK di Indonesia serta baru 20% dari 66.000 desa/kelurahan yang memiliki perpustakaan memadai. Diperparah lagi dengan penataan ruangan, penataan buku yang kurang rapi menjadi alasan seseorang enggan untuk pergi ke perpustakaan dalam rangka membaca dan mencari sumber referensi. Selain itu pelayanan, pencahayaan dan sirkulasi udara juga turut menjadi pertimbangan seseorang akan mengunjungi perpustakaan. Faktor ini dapat menjadikan seseorang yang awalnya sudah berniat ataupun sudah mengunjungi perpustakaan akan enggan melanjutkan kegiatannya di perpustakaan.
Faktor-faktor penyebab yang telah saya paparkan tadi akan membawa dampak yang merugikan, diantaranya:
1.    Mengalami kesulitan memahami, menguasai, mentransfer, dan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) untuk produksi barang dan jasa bermutu
2.    Generasi muda akan mudah dipengaruhi atau didoktrin oleh pemahaman–pemahaman yang negatif.
3.   Keterbatasan ilmu pengetahuan menjadikan seseorang memiliki dasar yang dangkal. Seseorang seperti ini pastilah akan mudah dipengaruhi oleh pemahaman-pemahaman yang negatif.
4.   Tidak berkembangnya kreativitas.
Kreatifitas akan muncul apabila seseorang mengembangkan pola berfikir serta tanggap terhadap lingkungan sekitar. Pengembangan pola berfikir ini diperoleh dalam kegiatan membaca. Pola fikir yang berkembang menjadikan tanggap terhadap lingkungan sehingga memunculkan ide-ide kreatif. 
5.   Tidak mengetahui informasi terbaru atau kurang update sehingga sulit untuk memajukan diri sendiri maupun lingkungan.
6.   Generasi muda menjadi miskin akan wawasan, karena tidak adanya kefahaman dan wawasan yang cukup terhadap ilmu pengetahuan dan mengenai apa yang terjadi. Remaja cenderung kurang peduli terhadap apa yang terjadi disekitarnya dan memilih menutup diri mementingkan trend yang sedang hangat.
 Bangsa akan kehilangan aset terpenting yaitu para pemuda, karena para pemuda tidak menumbuhkan rasa cinta terhaadap bacaan sejarah dan kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh pahlawan pendahulu.

Solusi agar minat baca siswa meningkat adalah memotivasi siswa untuk mewujudkan minat baca yang tinggi. Selain peran serta guru dalam meningkatkan minat baca, orang tua pun berperan aktif membantu meningkatkan minat baca siswa. Dengan adanya kerja sama antara guru dan orang tua serta membuat kegiatan yang rekreatif dan edukatif diharapkan dapat membangun minat baca di kalangan siswa sekolah. Yang kedua memberikan pemahaman bahwa pentingnya membaca, dan membuat suasana perpustakaan menjadi nyaman agar siswa semakin betah di perpustakaan.
Harapan saya minat baca siswa di Indonesia bisa sejajar dengan pendidikan di negara-negara lain yang minat bacanya jauh lebih baik. Bagaimana bangsa kita bisa cerdas jika setiap pelajarnya enggan untuk membacanya. Tinggi rendahnya minat baca suatu bangsa amat menentukan kualitas sumber daya manusia, sedangkan kualitas sumber daya manusia sangat menentukan perkembangan suatu bangsa.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar