Semangat Generasi
Muda Dalam Konstribusi Indonesia Sudah Berkurang?
Oleh :
Dhea Aulia Fauziah
Bimbingan
: Yerobiam Oematan,S.Pd
Pendahuluan
Generasi muda adalah ujung tombak dalam
mengantarkan bangsa dan negara menuju kemerdekaannya. Dalam sejarah perjuangan
kemerdekaan Indonesia generasi muda dengan penuh semangat mengusir penjajah
demi mewujudkan kemerdekaan, generasi muda saat itu dengan penuh semangat
memberikan apa yang perlu diberikan, melaksanakan apa yang bisa dilaksanakan
dengan semangat untuk memajukan bangsa kita Indonesia.
Namun dimasa sekarang kita melihat bahwa
banyak generasi muda yang melakukan hal-hal yang tidak baik. Bagaimana bisa
generasi muda mewujudkan kesejahteraan dan kemajuan bangsa jika mereka tidak
mempunyai jiwa nasionalisme? Karena itu kita perlu menanamkan semangat
nasionalisme ini pada generasi muda era sekarang. Semestinya kita generasi muda
saat ini lebih mampu memberikan konstribusi yang lebih besar demi mewujudkan
cita-cita bangsa.
Semangat generasi muda dalam konstribusi
Indonesia sudah berkurang?
Generasi muda adalah tiang negara karena pemuda sangat dibutuhkan
sebagai generasi penerus bangsa, sehingga dengan peran serta pemuda dalam
peningkatan mutu bangsa sangat berperan dalam maju atau mundurnya suatu negara.
Beri aku
1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda (generasi
muda) niscaya akan kuguncangkan dunia. - Soekarno
Itulah sepenggal pidato Soekarno, founding father bangsa ini, yang
mengisyaratkan begitu penting peran generasi muda dalam mengubah kehidupan
bangsa.
Kaum Muda Indonesia adalah masa depan Bangsa
, masa depan Bangsa Indonesia sangatlah ditentukan oleh para generasi muda Bangsa
ini. Karena itu, setiap generasi Indonesia, baik yang masih berstatus pelajar,
mahasiswa ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya merupakan
factor-faktor penting yang sangat diandalkan oleh Bangsa Indonesia dalam
mewujudkan cita-cita bangsa dan juga mempertahankan kedaulatan Bangsa. Generasi muda menjadi harapan dalam
setiap kemajuan di dalam suatu bangsa. Merekalah yang dapat merubah pandangan
orang terhadap suatu bangsa dan menjadi tumpuan para generasi terdahulu untuk
mengembangkan suatu bangsa dengan ide-ide ataupun gagasan yang berilmu,
wawasan yang luas, serta berdasarkan kepada nilai-nilai dan norma yang berlaku
di dalam masyarakat. Bangsa yang maju akan jauh lebih maju bila mempunyai generasi
yang berkualitas.
Konstribusi adalah sesuatu yang
dilakukan untuk membantu menghasilkan atau mencapai sesuatu bersama-sama dengan
orang lain, atau untuk membantu membuat sesuatu yang sukses. Lalu kontribusi apa yang dapat generasi muda berikan
untuk kemajuan bangsa dan negaranya? Kontribusi untuk kemajuan sudah tentu
merupakan kontribusi yang positif. Kontribusi positif dapat dituangkan dalam
berbagai bentuk. Banyak yang mengira berkontribusi
untuk bangsa ini harus dilakukan dengan gerakan yang besar dan melibatkan orang
banyak. Namun sebenarnya, berkontribusi untuk Negara bias diwujudkan dengan hal-hal
kecil yang kita lakukan sehari-hari seperti belajar dengan baik, berguna bagi
lingkungan, mengembangkan pemikiran kritis, berprestasi di kancah Internasional
dan masih banyak lagi.
Disadari atau tidak, generasi muda sejatinya
memiliki peran dan fungsi yang strategis dalam akselerasi pembangunan. Baik
buruknya suatu Negara dilihat dari kualitas generasi mudanya, karena generasi
muda adalah penerus dan pewaris bangsa dan Negara. Generasi muda harus
mempunyai karakter yang kuat untuk membangun bangsa dan negaranya, memiliki
kepribadian tinggi, semangat nasionalisme, berjiwa saing, mampu memahami
pengetahuan dan teknologi untuk bersaing secara global. Hal ini juga
membuktikan bahwa generasi muda adalah tulang punggung pembangunan nasional. Sebagai
penerus bangsa, generasi muda berarti menanggung harga dan martabat bangsa
Indonesia terutama di dunia Internasional, dimana persaingan dan penjajahan identitas
bangsa dapat berlangsung di berbagai macam bidang kehidupan. Tanpa adanya peranan
generasi muda atau pemuda Indonesia maka bangsa Indonesia pastinya akan sulit mengalami
perubahan dan akan mudah pula kehilangan identitas bangsa Indonesia.
Lalu, apakah generasi muda sekarang telah
berkonstribusi secara maksimal terhadap bangsa ini? Pertanyaan itulah yang
sering terlintas dipemikiran kita. Nyatanya sebagian besar pelajar lebih
mementingkan smartphone dari pada
membaca. Faktanya,
setiap kita jalan (entah di trotoar, di manapun itu) pasti kita tidak pernah
melihat orang yang tidak memegang smartphone.
Membaca merupakan
aspek yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Pepatah “Buku adalah jendela
dunia” mungkin relevansinya tidak pernah pudar walaupun arus informasi dunia
internet sudah mengubah gaya membaca kita dari buku cetak ke digital. Semua
orang di zaman ini gampang mengakses bacaan lewat smartphone. Mau baca berita
tinggal klik, mau baca buku tinggal download dan bisa langsung
membaca lewat layar smartphone. Di
dunia digital sekalipun pepatah di atas relevansinya masih sangat berpengaruh
di zaman ini, bahwa dengan membaca kita dapat mengetahui informasi-informasi
yang tiada batas dari mana saja, bahkan dari penjuru dunia sekalipun.
Namun berdasarkan
riset yang dilakukan oleh UNESCO,
indeks minat baca indonesia hanya 0,001 persen artinya dari 1.000 penduduk
hanya 1 orang yang serius membaca. Data dari survey BPS juga mencatat tingkat
minat baca anak-anak Indonesia hanya 17,66 persen, sementara minat menonton
mencapai 91,67 persen. Hasil penelitian ini dapat menjadikan acuan bagi bangsa
Indonesia untuk terus membenahi diri meningkatkan minat baca generasi
Indonesia.
Tidak
heran yang disampaikan sastrawan senior Taufiq Ismail dalam sebuah audiensi
dengan Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) tahun 2010.
“Tragedi nol buku” sebuah ungkapan keprihatinan dari seseorang sastrawan senior
terhadap budaya bangsa ini. Kalimat tersebut lahir dari kontemplasi beliau
melihat budaya baca bangsa ini. Budaya baca yang sangat rendah. Taufiq Ismail
melakukan penelitian tentang kewajiban membaca buku. Ternyata hasil
penelitiannya sungguh mengejutkan. Siswa SMA Indonesia tidak wajib membaca buku
sastra sama sekali sehingga dianggap sebagai siswa yang bersekolah tanpa
kewajiban membaca.
Sedih melihat budaya kita yang semakin jauh
dari tradisi membaca. Membaca turun derajatnya dengan menjadi sekedar anjuran,
himbauan, dan ajakan. Keprihatinan Taufiq Ismail tersebut sangat beralasan,
didukung oleh sebuah fakta atau temuan dari berbagai lembaga yang melakukan
studi tentang hal tersebut. Programme for
International Student Assessment
(PISA) tahun 2009 melakukan studi tentang minat baca terhadap 65 negara. Dari
studi PISA tersebut, Indonesia menempati urutan ke-57 dari 65 negera yang di
survei tentang minat baca. Indonesia masih kalah dengan Thailand, yang
menempati posisi ke-50. Bila dibandingkan dengan Jepang, jarak Indonesia
semakin lebih jauh. Jepang menempati posisi ke-8 dalam hasil survei tersebut. Lemahnya minat baca di
Indonesia didukung oleh banyak faktor, mulai dari akses terhadap bahan bacaan
yang sangat minim karena akses bahan bacaan baru tersebar di kota besar saja
belum sampai ke pelosok Tanah Air.
Semua menyadari bahwa buku menjadi salah satu
pilar penting dalam membangun karakter bangsa. Karena buku bukan sekedar
memberikan kita segudang ilmu pengetahuan atau sekedar memuaskan dahaga
intelektualisme kita. Mengenyangkan akal kita semata. Namun, buku juga memiliki
peran dalam membentuk cara berpikir, bertutur, dan berbuat. Buku bisa
menguatkan jiwa yang ringkih. Itulah buku, benda yang memiliki andil besar
dalam melahirkan peradaban-peradaban besar di muka bumi ini.
Coba kita lihat bagaimana Jepang membangun bangsanya dengan
membaca. Negeri sakura ini bangkit dari keterpurukannya dimulai dengan
membiasakan budaya membaca kepada seluruh masyarakatnya. Langkah awal yang
dilakukan oleh Jepang ini adalah dengan memberantas buta huruf untuk membangun
SDMnya. Lalu kemudian mendisiplinkan budaya membaca kepada masyarakatnya sejak
dini. Di Jepang ada program atau gerakan yang bernama 20 minutes reading of mother and
child. Gerakan atau program ini mengharuskan seorang ibu untuk mengajak
anaknya membaca buku 20 menit sebelum tidur. Ini merupakan salah satu contoh
dari upaya Jepang dalam meningkatkan budaya baca warganya. Lalu langkah yang
dilakukan mereka adalah dengan mengirim pelajar-pelajar Jepang ke luar negeri
dengan misi membangun bangsanya sendiri.
Kita liat saja contoh generasi muda Indonesia yang telah
berperan besar dalam pembangunan Bangsa setelah menuntut ilmu di luar negeri :
·
Ferry
Unardi
Pendiri Traveloka Ferry Unardi, lahir pada 16 Januari 1988 di
kota Padang. Setelah menyelesaikan pendidikan di sekolah menengah, Ferry
memutuskan untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Purdue Universitydi West Lafayette, Indiana, Amerika Serikat
jurusan Computer Science and Engineering. Setelah
menyelesaikan pendidikan S1, beliau memutuskan untuk bekerja di Microsoft,
Seattle. Dengan tingkat persaingan yang tinggi, Ferry menilai bahwa
kariernya di Microsoft akan sulit naik. Beliau kemudian
memutuskan untuk berhenti bekerja dan melanjutkan studinya. Sambil menjalani
studi di Harvard University, Ferry Unardi tertarik untuk mengembangkan
perusahaan rintisan (startup). Beliau memilih bidang mesin pencari tiket
pesawat. Karena ide inilah, lahir Traveloka, startup di bidang reservasi tiket yang tergolong baru dan langsung
menarik perhatian para investor. Sejauh ini, Traveloka sudah mendapatkan
pendanaan dari beberapa perusahaan modal ventura (venture capital). Berarti Ferry Unardi telah turut dalam
konstribusi besar bangsa dalam memajukan bangsa lewat teknologi.
Dalam membangun bangsa bukan saja diperlukan akademik yang bagus
kita juga harus tetap mengingat dan menjaga budaya kita agar tidak ditelan arus
globalisasi. Banyak generasi muda yang lebih bangga menggunakan brand ternama luar negeri dari pada brand local. Padahal memakai produk lokal
merupakan wujud cinta tanah air. Jika kita ingin melihat di NTT rasa cinta
budaya mereka sangat tinggi, seperti peraturan yang mengharuskan siswa/i
menggunakan rompi tenun setiap hari kamis. Tidak kalah dari para murid,
akhirnya Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat menetapkan peraturan menggunakan kain
tenun motif setiap hari selasa dan jumat
bagi seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN).
Kebijakan ini,
akan mendorong semangat para penenun yang sebagian besar ada di pelosok-pelosok
desa di NTT. Selama ini, tenunan biasanya hanya jadi pajangan di lemari dan
dipakai hanya pada saat upacara adat. Sementara, ASN provinsi yang sebagian
besar berada di Nusa Tenggara Timur juga
jarang terlibat acara adat tersebut, karena situasi kota yang sudah
terkontaminasi budaya modern. Kalaupun mau ikut acara, para ASN biasa pinjam
tenunan milik orang lain karena harga kain tenun yang mahal. Tapi, dengan
aturan yang mewajibkan ini, ASN tentu harus punya kain tenun minimal dua,
ditambah motif tenun satu. Tentu ini juga sangat membanggakan ibu-ibu penenun
di desa, juga menyemangati mereka. Dari sisi ekonomi, kehidupan para penenun
juga membaik.
Hal ini
didasari oleh keinginan melestarrikan dan
menjaga budaya kita agar tidak musnah di telan modernisasi. Karena
budaya merupakan indentitas bangsa kita. Apa artinya sebuah bangsa tanpa
indentitas. Maka marilah kita para generasi muda juga turut serta dalam
melestarikan budaya.
Kesimpulan dan saran
kita para generasi muda tidak boleh menutup mata dan harus mulai
sadar akan tanggung jawab kita terhadap bangsa ini, karena masa depan bangsa
ini berada di tangan kita. Generasi muda tidak boleh membuang-buang waktu
dengan hal yang tidak penting, bagaimana kita bisa mewujudkan cita-cita bangsa
jika kita tidak turut serta berkonstribusi pada Negara. Marilah kita
berkonstribusi dengan hal-hal kecil seperti membaca dan melestarikan budaya.
Buku, demikian besar pengaruhnya dalam menentukan arah dan
kebesaran sebuah peradaban. Tidak heran bila banyak negara begitu peduli
terhadap minat baca bangsanya. Berbagai langkah dan upaya dilakukan agar minat
baca warganya meningkat. Demikian peran pemerintah pun penting untuk
meningkatkan minat baca. Alangkah baik jika bangsa kita menerapkan program
membaca, contohnya 1 minggu satu buku untuk siswa, mengingat pentingnya
membaca untuk membantu pembangunan bangsa.
Dan juga tidak kalah penting bagi kita generasi muda untuk tetap
menjaga dan melestarikan budaya, alangkah baiknya jika kita lebih mencintai
produk sendiri. Jika seluruh Indonesia menerapkan program seperti/mirip yang di
terapkan di NTT maka secara tidak langsung generasi muda akan mulai mengenal
budaya mereka yang mungkin belum mereka ketahui dan ikut melestarikannya sejak
dini.
Kita perlu lebih jeli dalam
mendapatkan kesempatan dan peluang untuk maju. Dari kesempatan dan peluang yang
kita dapat, bias kita jadikan batulompatan untuk mengembangkan kualitas diri kita
dalam memberikan kontribusi yang positif. Mari kita sesama generasi muda saling
bergandengan tangan, saling menginspirasi, samakan visi, bersatu, dan saling bekerjasama
untuk maju bersama. Untuk kepentingan kita bersama, untuk kepentingan bangsa dan
negara Indonesia. Tetap semangat! Kita harus yakin kita bisa. Maju terus pantang
mundur!!
KABAR BAIK!!
BalasHapusNama saya Yula Falentina dari Surabaya dan saat ini tinggal di Malaysia. terima kasih kepada REBACCA ALMA LOAN COMPANY yang memberi saya pinjaman RM760.000 dengan tingkat bunga yang sangat rendah sekitar 2%.
Saya ditipu oleh penipu online bulan lalu, terima kasih kepada Tuhan yang menggunakan Rebecca Alma untuk mengakhiri semua kecurigaan saya dalam hidup saya, saya tidak pernah percaya saya bisa mendapatkan perusahaan pinjaman yang asli, jadi saya mencari pinjaman tanpa sejarah kredit dan saya punya banyak bank dan perusahaan keuangan untuk menghentikan saya, tetapi semua menolak.
Saya melihat halaman di internet dan saya melihat seorang wanita yang membagikan kesaksiannya tentang bagaimana dia mendapatkan pinjaman dari REBECCA ALMA LOAN COMPANY. Saya menghubungi ibu Rebecca dengan percaya diri dan dalam waktu 2 jam, saya mendapat pinjaman, kemudian saya menyadari bahwa tidak semua perusahaan pinjaman di blog itu benar-benar palsu karena semua hutang saya dibayar. Saya berjanji kepada Tuhan untuk membagikan kesaksian hidup saya karena mereka memberi saya harapan lagi. Harap berhati-hati ketika mencari perusahaan pinjaman karena ada perusahaan pinjaman palsu yang akan menipu Anda dari uang Anda namun Anda tidak akan mendapatkan pinjaman. Hubungi ibu Rebecca melalui email: rebaccaalmaloancompany@gmail.com atau Anda masih dapat menghubungi ibu Rebacca melalui nomor whatsapp: +14052595662.
Anda masih dapat menghubungi saya melalui alamat email saya: yulafalentina944@gmail.com
Semoga Tuhan memberkati Anda semua saat Anda mendapatkan pinjaman dari Rebacca Alma Loan Company dan juga membagikan kabar baik sehingga orang tidak akan jatuh cinta pada perusahaan palsu di mana pun.