RESEPSI VERSI TIMOR
Makna
“Kue Pengantin Versus Sirih Pinang”
Yerobiam
Oematan,S.Pd
Makna Kue Pengantin Versus Sirih
Pinang
Bulan Oktober bagi masyarakat Timor pada umumnya adalah bulan
Keluarga, dan bulan berkeluarga. Kedua hal ini sagat bertolak belakang, artinya
bahwa bulan dimana sebua keluarga yang belum terbentuk akan dibentuk. Tidak
heran jika bulan Oktober merupakan bulan undangan. Undangan sudah menjadi
sebuah tradisi yang tidak bisa dipisahkan dari keluarga.
Pesta pernikahan yang sering dilakukan terkhusus pada wilayah
Timor seharusnya sudah memiliki tradisi, atau menjadi kebiasaan yang sudah
dilakukan sejak dulu para moyang. Namun masih banyak hal yang kita temukan
dalam sebuah pesta pernikahan yang masih menyimpang dari tradisi atau kebiasaan.
Ketika Anda di undang dan datang ke acara resepsi pernikahan
bergaya internasional, pasti akan menemukan kue pengantin sebagai pemanis
acara. Jika dipikir-pikir, sebenarnya mengapa harus ada kue pengantin di acara
pernikahan? Apakah kita sudah tahu apa latar belakang kue pengantin? Ternyata,
tradisi kue pengantin ini sudah dimulai sejak zaman Romawi Kuno. Pada zaman
itu, kue pengantin tidak disajikan untuk disantap, melainkan untuk dihancurkan
lalu dilemparkan pada tubuh pengantin.
Sangat berbeda dengan sirih pinang yang sering kita temui di
cela-cela sebuah acara pernikahan, atau acara adat. Namun kedua symbol ini
memiliki makna dan arti serta fungsi yang sangat berbeda pula, namun seyogianya
kita tahu untuk menggunakan symbol-simbol ini pada situasi, kondisi, dan tempat
yang benar.
Salasatu Perancang Busana/Pakaian Pengantin Dalam bukunya yang
berjudul Wedding Inspiration,yang saya kutip dari Compas.com Tina Andrean menuturkan, bahwa asal kue pengantin adalah
dari tradisi masyarakat Romawi Kuno yang memecahkan roti di atas kepala
pengantin wanita. Tradisi ini merupakan sebuah pengharapan. Bahan-bahan dari
kue pengantin, seperti gandum, tepung, dan butiran padi merupakan simbolisasi
dari harapan kesuburan untuk si pengantin dan pasangannya. Sedangkan sirih
pinang merupakan sebuah symbol yang biasanya digunakan oleh masyarakat Timor
pada setiap acara yang fungsinya sebagai suguhan utama kepada tamu undangan
yang datang dan menghadiri acara tersebut, dan dianggap sebagai penghargaan.
Sementara di Inggris, sekitar abad pertengahan, tradisinya
adalah para tamu membawa kue sebagai hadiah untuk pasangan yang menikah,
kemudian ditumpuk sehingga membentuk pilar. Saat itu, dipercaya bahwa makin
tinggi kue yang terbentuk, maka pasangan yang menikah dan berciuman di depan
kue tersebut akan memiliki hidup yang baik dan makmur.
Dari tradisi-tradisi ini, seorang koki pada zaman Raja Charles
II mengadaptasi dan membuat sebuah kue pengantin yang tinggi, lalu meletakkan
miniatur pasangan pengantin di atasnya. Lalu, perkembangan tradisi inilah yang
terus populer hingga sekarang. Tradisi lain seputar kue pengantin adalah
pemotongan kue bersama oleh pasangan pengantin yang menyimbolkan kebersamaan
pasangan tersebut dalam berbagi kehidupan. Lalu, pasangan tersebut saling menyuapi
sebagai tanda bahwa mereka akan makan bersama untuk pertama kalinya. Membagikan
potongan kue untuk para undangan, merupakan simbol bahwa sang pengantin
membagikan kebahagiaannya dengan para tamu. Selain itu sirih pinang sering
digunakan dengan sebuah istila pinang berhadiah, setiap rangkai pinang yang
akan dibagikan ke tamu undangan akan ditandai dengan satu tanda khusus yang
bertujuan untuk orang-orang yang akan mengambilnya tidak bisa mengetauinya.
Tanda itu merupakan sebuah symbol untuk saling membagi
pengalaman dalam menjalani sebuah bahtera rumah tangga baru, tentu banyak laku
dan liku yang akan dilewati. Selain itu sebagai sebuah penghargaan bagi setiap
tamu yang akan mendapatkan tanda khusus itu melalui cendra mata.
Menurut
Novi Kirana dari toko kue pengantin Le Novelle Zaman dulu,yang saya kutip dari
Compas.com kue pengantin hanya menggunakan warna putih, baik bagian dalam
maupun bagian luarnya. “Sekarang ini, kue pengantin tak hanya sebagai makanan
penutup, tapi lebih sebagai bagian perpanjangan dekorasi acara. Warnanya dan
modelnya disesuaikan dengan dekorasi yang ada. Bahkan sebenarnya kue-kue yang
bertingkat sudah tak ada isinya, jadi hanya bagian luar saja. Sementara jatah
isi tersebut, biasanya dibuat dalam bentuk kecil-kecil dan diberi kemasan untuk
dibawa pulang oleh para tamu undangan. Saat ini pilihan kue pengantin sudah
sangat beragam dari bentuk dan rasa. Kue ini selain sebagai simbol juga sebagai
penambah manis dekorasi. Jangan lupa disesuaikan dengan kondisi ruangan
resepsi, warnanya, dan tingkatannya agar tampak harmonis di hari penting Anda
dan pasangan. Makna “Kue Pengantin Versus Sirih
Pinang” ( Yerobiam
Oematan,S.Pd Adaptasi
)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar