Selasa, 01 Oktober 2019

Makna “Kue Pengantin Versus Sirih Pinang”



RESEPSI VERSI TIMOR
Makna
“Kue Pengantin Versus Sirih Pinang”
Yerobiam Oematan,S.Pd


Makna Kue Pengantin Versus Sirih Pinang
Bulan Oktober bagi masyarakat Timor pada umumnya adalah bulan Keluarga, dan bulan berkeluarga. Kedua hal ini sagat bertolak belakang, artinya bahwa bulan dimana sebua keluarga yang belum terbentuk akan dibentuk. Tidak heran jika bulan Oktober merupakan bulan undangan. Undangan sudah menjadi sebuah tradisi yang tidak bisa dipisahkan dari keluarga.
Pesta pernikahan yang sering dilakukan terkhusus pada wilayah Timor seharusnya sudah memiliki tradisi, atau menjadi kebiasaan yang sudah dilakukan sejak dulu para moyang. Namun masih banyak hal yang kita temukan dalam sebuah pesta pernikahan yang masih menyimpang dari tradisi atau kebiasaan.
Ketika Anda di undang dan datang ke acara resepsi pernikahan bergaya internasional, pasti akan menemukan kue pengantin sebagai pemanis acara. Jika dipikir-pikir, sebenarnya mengapa harus ada kue pengantin di acara pernikahan? Apakah kita sudah tahu apa latar belakang kue pengantin? Ternyata, tradisi kue pengantin ini sudah dimulai sejak zaman Romawi Kuno. Pada zaman itu, kue pengantin tidak disajikan untuk disantap, melainkan untuk dihancurkan lalu dilemparkan pada tubuh pengantin.
Sangat berbeda dengan sirih pinang yang sering kita temui di cela-cela sebuah acara pernikahan, atau acara adat. Namun kedua symbol ini memiliki makna dan arti serta fungsi yang sangat berbeda pula, namun seyogianya kita tahu untuk menggunakan symbol-simbol ini pada situasi, kondisi, dan tempat yang benar.
Salasatu Perancang Busana/Pakaian Pengantin Dalam bukunya yang berjudul Wedding Inspiration,yang saya kutip dari Compas.com Tina Andrean menuturkan, bahwa asal kue pengantin adalah dari tradisi masyarakat Romawi Kuno yang memecahkan roti di atas kepala pengantin wanita. Tradisi ini merupakan sebuah pengharapan. Bahan-bahan dari kue pengantin, seperti gandum, tepung, dan butiran padi merupakan simbolisasi dari harapan kesuburan untuk si pengantin dan pasangannya. Sedangkan sirih pinang merupakan sebuah symbol yang biasanya digunakan oleh masyarakat Timor pada setiap acara yang fungsinya sebagai suguhan utama kepada tamu undangan yang datang dan menghadiri acara tersebut, dan dianggap sebagai penghargaan.
Sementara di Inggris, sekitar abad pertengahan, tradisinya adalah para tamu membawa kue sebagai hadiah untuk pasangan yang menikah, kemudian ditumpuk sehingga membentuk pilar. Saat itu, dipercaya bahwa makin tinggi kue yang terbentuk, maka pasangan yang menikah dan berciuman di depan kue tersebut akan memiliki hidup yang baik dan makmur.
Dari tradisi-tradisi ini, seorang koki pada zaman Raja Charles II mengadaptasi dan membuat sebuah kue pengantin yang tinggi, lalu meletakkan miniatur pasangan pengantin di atasnya. Lalu, perkembangan tradisi inilah yang terus populer hingga sekarang. Tradisi lain seputar kue pengantin adalah pemotongan kue bersama oleh pasangan pengantin yang menyimbolkan kebersamaan pasangan tersebut dalam berbagi kehidupan. Lalu, pasangan tersebut saling menyuapi sebagai tanda bahwa mereka akan makan bersama untuk pertama kalinya. Membagikan potongan kue untuk para undangan, merupakan simbol bahwa sang pengantin membagikan kebahagiaannya dengan para tamu. Selain itu sirih pinang sering digunakan dengan sebuah istila pinang berhadiah, setiap rangkai pinang yang akan dibagikan ke tamu undangan akan ditandai dengan satu tanda khusus yang bertujuan untuk orang-orang yang akan mengambilnya tidak bisa mengetauinya.
Tanda itu merupakan sebuah symbol untuk saling membagi pengalaman dalam menjalani sebuah bahtera rumah tangga baru, tentu banyak laku dan liku yang akan dilewati. Selain itu sebagai sebuah penghargaan bagi setiap tamu yang akan mendapatkan tanda khusus itu melalui cendra mata.
Menurut Novi Kirana dari toko kue pengantin Le Novelle Zaman dulu,yang saya kutip dari Compas.com kue pengantin hanya menggunakan warna putih, baik bagian dalam maupun bagian luarnya. “Sekarang ini, kue pengantin tak hanya sebagai makanan penutup, tapi lebih sebagai bagian perpanjangan dekorasi acara. Warnanya dan modelnya disesuaikan dengan dekorasi yang ada. Bahkan sebenarnya kue-kue yang bertingkat sudah tak ada isinya, jadi hanya bagian luar saja. Sementara jatah isi tersebut, biasanya dibuat dalam bentuk kecil-kecil dan diberi kemasan untuk dibawa pulang oleh para tamu undangan. Saat ini pilihan kue pengantin sudah sangat beragam dari bentuk dan rasa. Kue ini selain sebagai simbol juga sebagai penambah manis dekorasi. Jangan lupa disesuaikan dengan kondisi ruangan resepsi, warnanya, dan tingkatannya agar tampak harmonis di hari penting Anda dan pasangan.   Makna  “Kue  Pengantin Versus Sirih Pinang”  ( Yerobiam Oematan,S.Pd  Adaptasi  )




Tidak ada komentar:

Posting Komentar