Rabu, 02 Oktober 2019

Karya Tulis


Semangat Generasi Muda Dalam Konstribusi Indonesia Sudah Berkurang?
Oleh : Dhea Aulia Fauziah
Bimbingan : Yerobiam Oematan,S.Pd
Pendahuluan
Generasi muda adalah ujung tombak dalam mengantarkan bangsa dan negara menuju kemerdekaannya. Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia generasi muda dengan penuh semangat mengusir penjajah demi mewujudkan kemerdekaan, generasi muda saat itu dengan penuh semangat memberikan apa yang perlu diberikan, melaksanakan apa yang bisa dilaksanakan dengan semangat untuk memajukan bangsa kita Indonesia.
Namun dimasa sekarang kita melihat bahwa banyak generasi muda yang melakukan hal-hal yang tidak baik. Bagaimana bisa generasi muda mewujudkan kesejahteraan dan kemajuan bangsa jika mereka tidak mempunyai jiwa nasionalisme? Karena itu kita perlu menanamkan semangat nasionalisme ini pada generasi muda era sekarang. Semestinya kita generasi muda saat ini lebih mampu memberikan konstribusi yang lebih besar demi mewujudkan cita-cita bangsa.
Semangat generasi muda dalam konstribusi Indonesia sudah berkurang?
Generasi muda adalah tiang negara karena pemuda sangat dibutuhkan sebagai generasi penerus bangsa, sehingga dengan peran serta pemuda dalam peningkatan mutu bangsa sangat berperan dalam maju atau mundurnya suatu negara.
Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda (generasi muda) niscaya akan kuguncangkan dunia. - Soekarno
Itulah sepenggal pidato Soekarno, founding father bangsa ini, yang mengisyaratkan begitu penting peran generasi muda dalam mengubah kehidupan bangsa.
Kaum Muda Indonesia adalah masa depan Bangsa , masa depan Bangsa Indonesia sangatlah ditentukan oleh para generasi muda Bangsa ini. Karena itu, setiap generasi Indonesia, baik yang masih berstatus pelajar, mahasiswa ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya merupakan factor-faktor penting yang sangat diandalkan oleh Bangsa Indonesia dalam mewujudkan cita-cita bangsa dan juga mempertahankan kedaulatan Bangsa. Generasi muda menjadi harapan dalam setiap kemajuan di dalam suatu bangsa. Merekalah yang dapat merubah pandangan orang terhadap suatu bangsa dan menjadi tumpuan para generasi terdahulu untuk mengembangkan suatu bangsa dengan ide-ide ataupun  gagasan yang berilmu, wawasan yang luas, serta berdasarkan kepada nilai-nilai dan norma yang berlaku di dalam masyarakat. Bangsa yang maju akan jauh lebih maju bila mempunyai generasi yang berkualitas.
Konstribusi adalah sesuatu yang dilakukan untuk membantu menghasilkan atau mencapai sesuatu bersama-sama dengan orang lain, atau untuk membantu membuat sesuatu yang sukses. Lalu kontribusi apa yang dapat generasi muda berikan untuk kemajuan bangsa dan negaranya? Kontribusi untuk kemajuan sudah tentu merupakan kontribusi yang positif. Kontribusi positif dapat dituangkan dalam berbagai bentuk. Banyak yang mengira berkontribusi untuk bangsa ini harus dilakukan dengan gerakan yang besar dan melibatkan orang banyak. Namun sebenarnya, berkontribusi untuk Negara bias diwujudkan dengan hal-hal kecil yang kita lakukan sehari-hari seperti belajar dengan baik, berguna bagi lingkungan, mengembangkan pemikiran kritis, berprestasi di kancah Internasional dan masih banyak lagi.
Disadari atau tidak, generasi muda sejatinya memiliki peran dan fungsi yang strategis dalam akselerasi pembangunan. Baik buruknya suatu Negara dilihat dari kualitas generasi mudanya, karena generasi muda adalah penerus dan pewaris bangsa dan Negara. Generasi muda harus mempunyai karakter yang kuat untuk membangun bangsa dan negaranya, memiliki kepribadian tinggi, semangat nasionalisme, berjiwa saing, mampu memahami pengetahuan dan teknologi untuk bersaing secara global. Hal ini juga membuktikan bahwa generasi muda adalah tulang punggung pembangunan nasional. Sebagai penerus bangsa, generasi muda berarti menanggung harga dan martabat bangsa Indonesia terutama di dunia Internasional, dimana persaingan dan penjajahan identitas bangsa dapat berlangsung di berbagai macam bidang kehidupan. Tanpa adanya peranan generasi muda atau pemuda Indonesia maka bangsa Indonesia pastinya akan sulit mengalami perubahan dan akan mudah pula kehilangan identitas bangsa Indonesia.
Lalu, apakah generasi muda sekarang telah berkonstribusi secara maksimal terhadap bangsa ini? Pertanyaan itulah yang sering terlintas dipemikiran kita. Nyatanya sebagian besar pelajar lebih mementingkan smartphone dari pada membaca. Faktanya, setiap kita jalan (entah di trotoar, di manapun itu) pasti kita tidak pernah melihat orang yang tidak memegang smartphone.
Membaca merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Pepatah “Buku adalah jendela dunia” mungkin relevansinya tidak pernah pudar walaupun arus informasi dunia internet sudah mengubah gaya membaca kita dari buku cetak ke digital. Semua orang di zaman ini gampang mengakses bacaan lewat smartphone. Mau baca berita tinggal klik, mau baca buku tinggal download dan bisa langsung membaca lewat layar smartphone. Di dunia digital sekalipun pepatah di atas relevansinya masih sangat berpengaruh di zaman ini, bahwa dengan membaca kita dapat mengetahui informasi-informasi yang tiada batas dari mana saja, bahkan dari penjuru dunia sekalipun.
Namun berdasarkan riset yang dilakukan oleh UNESCO, indeks minat baca indonesia hanya 0,001 persen artinya dari 1.000 penduduk hanya 1 orang yang serius membaca. Data dari survey BPS juga mencatat tingkat minat baca anak-anak Indonesia hanya 17,66 persen, sementara minat menonton mencapai 91,67 persen. Hasil penelitian ini dapat menjadikan acuan bagi bangsa Indonesia untuk terus membenahi diri meningkatkan minat baca generasi Indonesia.
Tidak heran yang disampaikan sastrawan senior Taufiq Ismail dalam sebuah audiensi dengan Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) tahun 2010. “Tragedi nol buku” sebuah ungkapan keprihatinan dari seseorang sastrawan senior terhadap budaya bangsa ini. Kalimat tersebut lahir dari kontemplasi beliau melihat budaya baca bangsa ini. Budaya baca yang sangat rendah. Taufiq Ismail melakukan penelitian tentang kewajiban membaca buku. Ternyata hasil penelitiannya sungguh mengejutkan. Siswa SMA Indonesia tidak wajib membaca buku sastra sama sekali sehingga dianggap sebagai siswa yang bersekolah tanpa kewajiban membaca.
Sedih melihat budaya kita yang semakin jauh dari tradisi membaca. Membaca turun derajatnya dengan menjadi sekedar anjuran, himbauan, dan ajakan. Keprihatinan Taufiq Ismail tersebut sangat beralasan, didukung oleh sebuah fakta atau temuan dari berbagai lembaga yang melakukan studi tentang hal tersebut. Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2009 melakukan studi tentang minat baca terhadap 65 negara. Dari studi PISA tersebut, Indonesia menempati urutan ke-57 dari 65 negera yang di survei tentang minat baca. Indonesia masih kalah dengan Thailand, yang menempati posisi ke-50. Bila dibandingkan dengan Jepang, jarak Indonesia semakin lebih jauh. Jepang menempati posisi ke-8 dalam hasil survei tersebut. Lemahnya minat baca di Indonesia didukung oleh banyak faktor, mulai dari akses terhadap bahan bacaan yang sangat minim karena akses bahan bacaan baru tersebar di kota besar saja belum sampai ke pelosok Tanah Air.
Semua menyadari bahwa buku menjadi salah satu pilar penting dalam membangun karakter bangsa. Karena buku bukan sekedar memberikan kita segudang ilmu pengetahuan atau sekedar memuaskan dahaga intelektualisme kita. Mengenyangkan akal kita semata. Namun, buku juga memiliki peran dalam membentuk cara berpikir, bertutur, dan berbuat. Buku bisa menguatkan jiwa yang ringkih. Itulah buku, benda yang memiliki andil besar dalam melahirkan peradaban-peradaban besar di muka bumi ini.
Coba kita lihat bagaimana Jepang membangun bangsanya dengan membaca. Negeri sakura ini bangkit dari keterpurukannya dimulai dengan membiasakan budaya membaca kepada seluruh masyarakatnya. Langkah awal yang dilakukan oleh Jepang ini adalah dengan memberantas buta huruf untuk membangun SDMnya. Lalu kemudian mendisiplinkan budaya membaca kepada masyarakatnya sejak dini. Di Jepang ada program atau gerakan yang bernama 20 minutes reading of mother and child. Gerakan atau program ini mengharuskan seorang ibu untuk mengajak anaknya membaca buku 20 menit sebelum tidur. Ini merupakan salah satu contoh dari upaya Jepang dalam meningkatkan budaya baca warganya. Lalu langkah yang dilakukan mereka adalah dengan mengirim pelajar-pelajar Jepang ke luar negeri dengan misi membangun bangsanya sendiri.
Kita liat saja contoh generasi muda Indonesia yang telah berperan besar dalam pembangunan Bangsa setelah menuntut ilmu di luar negeri :
·         Ferry Unardi
Pendiri Traveloka Ferry Unardi, lahir pada 16 Januari 1988 di kota Padang. Setelah menyelesaikan pendidikan di sekolah menengah, Ferry memutuskan untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Purdue Universitydi West Lafayette, Indiana, Amerika Serikat jurusan Computer Science and Engineering. Setelah menyelesaikan pendidikan S1, beliau memutuskan untuk bekerja di Microsoft, Seattle. Dengan tingkat persaingan yang tinggi, Ferry menilai bahwa kariernya di Microsoft akan sulit naik. Beliau kemudian memutuskan untuk berhenti bekerja dan melanjutkan studinya. Sambil menjalani studi di Harvard University, Ferry Unardi tertarik untuk mengembangkan perusahaan rintisan (startup). Beliau memilih bidang mesin pencari tiket pesawat. Karena ide inilah, lahir Traveloka, startup di bidang reservasi tiket yang tergolong baru dan langsung menarik perhatian para investor. Sejauh ini, Traveloka sudah mendapatkan pendanaan dari beberapa perusahaan modal ventura (venture capital). Berarti Ferry Unardi telah turut dalam konstribusi besar bangsa dalam memajukan bangsa lewat teknologi.
Dalam membangun bangsa bukan saja diperlukan akademik yang bagus kita juga harus tetap mengingat dan menjaga budaya kita agar tidak ditelan arus globalisasi. Banyak generasi muda yang lebih bangga menggunakan brand ternama luar negeri dari pada brand local. Padahal memakai produk lokal merupakan wujud cinta tanah air. Jika kita ingin melihat di NTT rasa cinta budaya mereka sangat tinggi, seperti peraturan yang mengharuskan siswa/i menggunakan rompi tenun setiap hari kamis. Tidak kalah dari para murid, akhirnya Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat menetapkan peraturan menggunakan kain tenun  motif setiap hari selasa dan jumat bagi seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN).
Kebijakan ini, akan mendorong semangat para penenun yang sebagian besar ada di pelosok-pelosok desa di NTT. Selama ini, tenunan biasanya hanya jadi pajangan di lemari dan dipakai hanya pada saat upacara adat. Sementara, ASN provinsi yang sebagian besar berada di Nusa Tenggara Timur  juga jarang terlibat acara adat tersebut, karena situasi kota yang sudah terkontaminasi budaya modern. Kalaupun mau ikut acara, para ASN biasa pinjam tenunan milik orang lain karena harga kain tenun yang mahal. Tapi, dengan aturan yang mewajibkan ini, ASN tentu harus punya kain tenun minimal dua, ditambah motif tenun satu. Tentu ini juga sangat membanggakan ibu-ibu penenun di desa, juga menyemangati mereka. Dari sisi ekonomi, kehidupan para penenun juga membaik.
Hal ini didasari oleh keinginan melestarrikan dan  menjaga budaya kita agar tidak musnah di telan modernisasi. Karena budaya merupakan indentitas bangsa kita. Apa artinya sebuah bangsa tanpa indentitas. Maka marilah kita para generasi muda juga turut serta dalam melestarikan budaya.

Kesimpulan dan saran
kita para generasi muda tidak boleh menutup mata dan harus mulai sadar akan tanggung jawab kita terhadap bangsa ini, karena masa depan bangsa ini berada di tangan kita. Generasi muda tidak boleh membuang-buang waktu dengan hal yang tidak penting, bagaimana kita bisa mewujudkan cita-cita bangsa jika kita tidak turut serta berkonstribusi pada Negara. Marilah kita berkonstribusi dengan hal-hal kecil seperti membaca dan melestarikan budaya.
Buku, demikian besar pengaruhnya dalam menentukan arah dan kebesaran sebuah peradaban. Tidak heran bila banyak negara begitu peduli terhadap minat baca bangsanya. Berbagai langkah dan upaya dilakukan agar minat baca warganya meningkat. Demikian peran pemerintah pun penting untuk meningkatkan minat baca. Alangkah baik jika bangsa kita menerapkan program membaca, contohnya 1 minggu satu buku untuk siswa, mengingat pentingnya membaca untuk membantu pembangunan bangsa.
Dan juga tidak kalah penting bagi kita generasi muda untuk tetap menjaga dan melestarikan budaya, alangkah baiknya jika kita lebih mencintai produk sendiri. Jika seluruh Indonesia menerapkan program seperti/mirip yang di terapkan di NTT maka secara tidak langsung generasi muda akan mulai mengenal budaya mereka yang mungkin belum mereka ketahui dan ikut melestarikannya sejak dini.
Kita perlu lebih jeli dalam mendapatkan kesempatan dan peluang untuk maju. Dari kesempatan dan peluang yang kita dapat, bias kita jadikan batulompatan untuk mengembangkan kualitas diri kita dalam memberikan kontribusi yang positif. Mari kita sesama generasi muda saling bergandengan tangan, saling menginspirasi, samakan visi, bersatu, dan saling bekerjasama untuk maju bersama. Untuk kepentingan kita bersama, untuk kepentingan bangsa dan negara Indonesia. Tetap semangat! Kita harus yakin kita bisa. Maju terus pantang mundur!!

1 komentar:

  1. KABAR BAIK!!

    Nama saya Yula Falentina dari Surabaya dan saat ini tinggal di Malaysia. terima kasih kepada REBACCA ALMA LOAN COMPANY yang memberi saya pinjaman RM760.000 dengan tingkat bunga yang sangat rendah sekitar 2%.

    Saya ditipu oleh penipu online bulan lalu, terima kasih kepada Tuhan yang menggunakan Rebecca Alma untuk mengakhiri semua kecurigaan saya dalam hidup saya, saya tidak pernah percaya saya bisa mendapatkan perusahaan pinjaman yang asli, jadi saya mencari pinjaman tanpa sejarah kredit dan saya punya banyak bank dan perusahaan keuangan untuk menghentikan saya, tetapi semua menolak.

    Saya melihat halaman di internet dan saya melihat seorang wanita yang membagikan kesaksiannya tentang bagaimana dia mendapatkan pinjaman dari REBECCA ALMA LOAN COMPANY. Saya menghubungi ibu Rebecca dengan percaya diri dan dalam waktu 2 jam, saya mendapat pinjaman, kemudian saya menyadari bahwa tidak semua perusahaan pinjaman di blog itu benar-benar palsu karena semua hutang saya dibayar. Saya berjanji kepada Tuhan untuk membagikan kesaksian hidup saya karena mereka memberi saya harapan lagi. Harap berhati-hati ketika mencari perusahaan pinjaman karena ada perusahaan pinjaman palsu yang akan menipu Anda dari uang Anda namun Anda tidak akan mendapatkan pinjaman. Hubungi ibu Rebecca melalui email: rebaccaalmaloancompany@gmail.com atau Anda masih dapat menghubungi ibu Rebacca melalui nomor whatsapp: +14052595662.

    Anda masih dapat menghubungi saya melalui alamat email saya: yulafalentina944@gmail.com

    Semoga Tuhan memberkati Anda semua saat Anda mendapatkan pinjaman dari Rebacca Alma Loan Company dan juga membagikan kabar baik sehingga orang tidak akan jatuh cinta pada perusahaan palsu di mana pun.

    BalasHapus